Rabu 15 Nov 2023 09:31 WIB

Houthi Siap Serang Kapal Israel yang Melintas di Laut Merah

Houthi menargetkan kapal-kapal Israel di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
Houthi menargetkan kapal-kapal Israel di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb.
Foto: EPA-EFE/YAHYA ARHAB
Houthi menargetkan kapal-kapal Israel di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemimpin Houthi di Yaman mengatakan, pasukannya akan melakukan serangan lebih lanjut terhadap Israel. Houthi menambahkan, mereka dapat menargetkan kapal-kapal Israel di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb.

Kelompok Houthi, yang bersekutu dengan Iran, melakukan beberapa serangan rudal dan drone terhadap Israel. Serangan ini menyoroti risiko perang antara Israel dan kelompok militan Palestina Hamas yang menyebar luas ke Timur Tengah.

Baca Juga

Houthi telah meluncurkan sejumlah rudal balistik ke berbagai sasaran Israel, termasuk sasaran sensitif di Eilat Israel. Peluncuran tersebut dilakukan setelah 24 jam operasi militer lainnya dengan menggunakan drone terhadap sasaran Israel yang sama,” ujar juru bicara Houthi, dilansir Alarabiya, Selasa (14/11/2023).

Juru bicara Houthi mengatakan, kelompok tersebut tidak akan ragu untuk menargetkan kapal Israel mana pun di Laut Merah atau di tempat lain yang dapat dijangkau oleh kelompok tersebut. Houthi berperang melawan koalisi pimpinan Arab sejak 2015. Houthi telah muncul sebagai kekuatan militer besar di Semenanjung Arab, dengan puluhan ribu pejuang dan persenjataan besar berupa rudal balistik dan drone bersenjata. Kelompok ini menguasai Yaman utara dan pesisir Laut Merah.

“Mata kami terbuka untuk terus memantau dan mencari kapal Israel di Laut Merah, terutama di Bab al-Mandab, dan dekat perairan regional Yaman,” kata Abdulmalik al-Houthi dalam pidatonya.

Washington semakin waspada terhadap aktivitas kelompok yang didukung Iran sejak pejuang Hamas melancarkan serangan mengejutkan di Israel pada 7 Oktober. Sejak itu, Israel telah meningkatkan serangannya ke Gaza, dan membunuh lebih dari 11.000 orang, termasuk anak-anak dan perempuan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement