Senin 02 Oct 2023 19:00 WIB

Pj Gubernur Minta Dinkes Jabar Usut Dugaan Keracunan Jajanan Cimin

Ada 35 siswa mengalami gejala keracunan makanan diduga setelah mengonsumsi cimin.

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Irfan Fitrat
Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin.
Foto: Edi Yusuf/Republika
Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat (Jabar) Bey Machmudin meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) turut mengusut kasus dugaan keracunan makanan yang dialami puluhan siswa SD di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Terlebih, ada satu korban yang meninggal dunia.

Sebelumnya dilaporkan ada 35 siswa SDN 3 Jati, Saguling, KBB, yang mengalami gejala keracunan makanan, diduga setelah mengonsumsi jajanan cimin. Dinkes Provinsi Jabar diminta mengusutnya.

Baca Juga

“Saya akan meminta Dinas Kesehatan untuk lebih teliti mencari informasi kenapa bisa sampai seperti itu. Mengecek seperti apa. Tentunya dengan Dinas Kesehatan kabupaten (KBB),” ujar Bey, selepas rapat pimpinan di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (2/10/2023).

Kepala Dinkes Provinsi Jabar Raden Vini Adiani Dewi mengatakan, pihaknya tengah menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sampel jajanan cimin yang dikonsumsi para siswa tersebut. Sampel itu diperiksa di Laboratorium Kesehatan (Labkes) Provinsi Jabar.

Melalui uji laboratorium itu dilihat apakah ada atau tidak zat yang membahayakan pada jajanan cimin tersebut. “Sekarang kami dalam tahap menunggu hasil pemeriksaan sampel di Labkes Provinsi Jawa Barat. Kalau enggak Selasa (besok) atau Rabu hasilnya akan keluar,” ujar dia.

Ihwal kondisi korban, Vini mengatakan, berdasarkan laporan yang diterimanya, kini sudah sehat. Adapun satu siswa meninggal dunia. Diketahui siswa yang meninggal dunia itu memiliki riwayat penyakit talasemia atau kelainan darah.

“Memang ada satu yang meninggal, tapi ada penyakit dasarnya, talasemia. Memang anak ini rutin setiap bulan ke rumah sakit. Mungkin karena penyakit dasar. Tapi, saya tidak berani menjawab karena memang secara klinis tidak terlibat. Tapi, kalau dilihat dari penyakit dasar, (potensi penyebab kematian) cukup besar,” ujar Vini.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement