Sabtu 27 May 2023 22:10 WIB

Dokter Sebut Anak Tetap Miliki Risiko dari Paparan Rokok Elektrik

Penelitian terhadap anak 2014-2019 menunjukkan kejadian bronchitis naik 26 persen.

Vape (ilustrasi). Dokter spesialis anak dan konsultan respirology anak RSAB Harapan Kita dr Dimas Dwi Saputro mengatakan anak atau remaja tetap bisa memiliki risiko kesehatan yang buruk terhadap paparan asap rokok elektrik.
Foto: www.freepik.com
Vape (ilustrasi). Dokter spesialis anak dan konsultan respirology anak RSAB Harapan Kita dr Dimas Dwi Saputro mengatakan anak atau remaja tetap bisa memiliki risiko kesehatan yang buruk terhadap paparan asap rokok elektrik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dokter spesialis anak dan konsultan respirology anak RSAB Harapan Kita dr Dimas Dwi Saputro mengatakan anak atau remaja tetap bisa memiliki risiko kesehatan yang buruk terhadap paparan asap rokok elektrik. Ini disebut second hand vaping.

"Ada bukti tahun 2022 diperiksa pada 2.097 anak-anak usia 17 tahun diikuti dari 2014 sampai 2019. Ternyata, kejadian mengi atau wheezing itu meningkat sekitar 15 persen, kemudian kejadian bronchitis meningkat sampai 26 persen dan sesak napas meningkat sampai 18 persen," katanya dalam diskusi daring 'Hari Tanpa Tembakau Sedunia' yang diikuti di Jakarta, Sabtu (27/5/2023).

Baca Juga

Dari data tersebut, Dimas menjelaskan risiko anak mengalami bronchitis akan naik 1,4 kali lebih banyak dan 1,5 kali risiko sesak nafas pada kalangan dewasa muda maupun remaja yang seharusnya bisa tumbuh dengan sempurna. Hal itu juga akan menghambat cita-cita bangsa yang ingin menjadikan Indonesia Emas dengan mendapatkan bonus demografi di 2045 sebesar 70 persen yang rata-rata usia produktif.

Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) ini menjelaskan, rokok elektrik awalnya untuk mengurangi bahaya atau harm reduction dari rokok tembakau konvensional yang memiliki banyak bahaya dengan 7.000 lebih zat-zat beracun di dalamnya. Maka diatur sedemikian rupa untuk dikurangi risikonya dengan diciptakan vape atau rokok elektrik yang secara umum dikatakan sebagai Electronic Nicotin Delivery System atau INDS.

Cara kerja rokok elektrik menghasilkan aerosol, dengan pemanasan cairan yang biasanya diteteskan mengandung nikotin dan zat adiktif lainnya, lalu dicampur dengan bahan kimiasehingga makin mudah untuk membuat kepulan aerosol.

Meskipun aerosol rokok elektrik terbilang sedikit kandungan zat karsinogeniknya, Dimas mengatakan aerosol rokok elektrik masih mengandung zat-zat yang berpotensi bahaya jika digunakan terus-menerus.

"Karena masih ada nikotinnya, juga ada logam beratnya, seperti timbal, kemudian senyawa organik yang mudah menguap, dan tentu saja ada zat-zat penyebab kanker, yang mungkin jumlahnya lebih sedikit dibanding rokok konvensional, tapi kalau dipakai berulang-ulang secara akumulatif akan berbahaya juga," ucap Dimas.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement