Jumat 12 May 2023 16:05 WIB

Benarkah Mobil Listrik dan Otonom Bisa Memperparah Mabuk Perjalanan?

Sebagian orang mengalami mabuk perjalanan saat naik mobil.

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Reiny Dwinanda
Mobil listrik BMW iX terlihat saat acara serah terima mobil resmi KTT ASEAN di Jakarta, Kamis (13/4/2023). Mobil listrik tidak menghilangkan risiko mabuk perjalanan.
Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Mobil listrik BMW iX terlihat saat acara serah terima mobil resmi KTT ASEAN di Jakarta, Kamis (13/4/2023). Mobil listrik tidak menghilangkan risiko mabuk perjalanan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekitar 25-30 persen orang sering menderita motion sickness atau mabuk perjalanan. Gejalanya berupa mual, berkeringat, sakit kepala, muntah, dan hipotermia.

Biasanya, mabuk perjalanan dialami saat naik mobil. Penumpang cenderung merasa mual karena tidak memiliki kemampuan untuk mengantisipasi pergerakan mobil.

Baca Juga

Lebih dari satu abad perkembangan mobil, masalah mabuk perjalanan masih belum terpecahkan. Bahkan, sejumlah kemajuan teknologi justru bisa meningkatkan risiko mabuk perjalanan karena menimbulkan atau memperburuk perasaan tidak seimbang sekaligus menghalangi penumpang mengantisipasi dinamika perjalanan darat.

Secara alami, mobil listrik lebih linier dan senyap daripada mobil dengan mesin berbahan bakar bensin. Alhasil, penumpang semakin tak dapat merasakan dinamika pergerakan mobil, seperti arah, percepatan, atau perlambatan laju mobil, sehingga tidak lagi bisa menyelaraskan diri dengan pergerakan mobil.

Mobil listrik dengan efisiensi dan segala kelebihannya, di sisi lain juga membuat penumpang tak bisa merasakan putaran mesin yang selama ini diasosiasikan dengan percepatan atau perlambatan kendaraan, seperti pada mesin berbahan bakar minyak. Selain itu, getaran mesin yang dianggap menenangkan oleh sebagian orang juga hilang.

Penggunaan pengereman regeneratif yang mengubah energi kinetik untuk disimpan kembali menjadi energi listrik juga dianggap dapat mengganggu keseimbangan penumpang. Pengereman yang diinduksi oleh sistem ini biasanya menimbulkan suara menggerung yang berfrekuensi rendah.

Kemajuan teknologi lain yang bisa menyebabkan mabuk perjalanan adalah semakin banyak layar LED berukuran besar yang ada di dalam kendaraan. Layar ini membebani pengguna dengan informasi visual yang membuat mereka enggan melihat ke luar mobil.

Ini akan membuat mereka kehilangan kemampuan untuk menerima sinyal visual yang benar, yaitu pandangan di luar kendaraan. Padahal, kemampuan ini berguna untuk memahami posisi mereka dengan benar. Jika hilang, ini dapat menyebabkan mabuk perjalanan.

Munculnya teknologi layar LED lebar dalam mobil kemungkinan akan meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Ini termasuk kendaraan yang menawarkan pengalaman realitas virtual dalam mobil.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement