Rabu 08 Mar 2023 17:49 WIB

Sepanjang 2022, Astra Financial Catat Laba Melonjak 22 Persen

PT Sedaya Multi Investama mencatatkan laba sebesar Rp 6 triliun pada 2022.

Rep: Novita Intan/ Red: Ahmad Fikri Noor
Karyawan mengakses aplikasi MauModal saat peluncuran di booth Astra Financial GIIAS 2022, ICE BSD Tangerang, Jumat (19/8/2022). PT Sedaya Multi Investama atau Astra Financial mencatatkan laba sebesar Rp 6 triliun pada 2022.
Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Karyawan mengakses aplikasi MauModal saat peluncuran di booth Astra Financial GIIAS 2022, ICE BSD Tangerang, Jumat (19/8/2022). PT Sedaya Multi Investama atau Astra Financial mencatatkan laba sebesar Rp 6 triliun pada 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Sedaya Multi Investama atau Astra Financial mencatatkan laba sebesar Rp 6 triliun pada 2022. Realisasi ini tumbuh 22 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. CEO Sedaya Multi Investama Handoko Liem mengatakan, pencapaian ini seiring pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19.

“Laba juga didorong pertumbuhan sektor ritel khususnya bisnis pembiayaan konsumen,” ujarnya saat konferensi pers, Rabu (8/3/2023).

Baca Juga

Astra Financial memiliki aset sebesar Rp 166 triliun dengan 910 jaringan yang didukung oleh 34 ribu karyawan di Indonesia, serta melayani lebih dari 25 juta konsumen. Perusahaan pembiayaan konsumen, pembiayaan alat berat, serta layanan asuransi umum dan asuransi jiwa dari Astra Financial menjadi unit bisnis yang memiliki peningkatan performa signifikan pada 2022. Kontribusi laba perusahaan pembiayaan konsumen di bawah Astra Financial yakni FIF Group, Astra Kredit Companies (ACC), dan TAF (Toyota Astra Financial Services) meningkat 21 persen menjadi Rp 101,7 triliun.

Selain itu, kontribusi laba bersih perusahaan pembiayaan alat berat yakni PT Komatsu Astra Finance dan PT Surya Artha Nusantara Finance terhadap Astra Financial juga meningkat 37 persen menjadi Rp 102 miliar. Perusahaan asuransi umum grup mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 12 persen menjadi Rp 1,2 triliun, terutama disebabkan pendapatan underwriting dan hasil investasi yang lebih tinggi.

“Perusahaan asuransi jiwa, mencatatkan peningkatan premi bruto (gross written premium) sebesar lima persen menjadi Rp 6 triliun,” ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement