Selasa 07 Mar 2023 16:55 WIB

Harga Minyak Naik Tipis, Kekhawatiran Pasokan Imbangi Ketidakpastian China

Komentar CEO Chevron soal potensi gangguan pasokan dari Rusia mengerek harga minyak.

Sebuah kilang minyak lepas pantai (ilustrasi). Harga minyak sedikit menguat di perdagangan Asia, Selasa (7/3/2023) sore, setelah naik selama lima sesi terakhir, karena kekhawatiran tentang terbatasnya kapasitas cadangan di pasar dan ketidakpastian pasokan Rusia.
Foto: Antara/FB Anggoro
Sebuah kilang minyak lepas pantai (ilustrasi). Harga minyak sedikit menguat di perdagangan Asia, Selasa (7/3/2023) sore, setelah naik selama lima sesi terakhir, karena kekhawatiran tentang terbatasnya kapasitas cadangan di pasar dan ketidakpastian pasokan Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA -- Harga minyak sedikit menguat di perdagangan Asia, Selasa (7/3/2023) sore, setelah naik selama lima sesi terakhir, karena kekhawatiran tentang terbatasnya kapasitas cadangan di pasar dan ketidakpastian pasokan Rusia mengimbangi data minyak yang beragam dari importir minyak mentah utama China.

Minyak mentah berjangka Brent sedikit terangkat 18 sen menjadi diperdagangkan di 86,36 dolar AS per barel pada pukul 07.30 GMT, setelah menetap 0,4 persen lebih tinggi pada Senin (6/3/2023). Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik tipis 16 sen menjadi diperdagangkan di 80,62 dolar AS per barel, menyusul kenaikan 1,0 persen di sesi sebelumnya. Brent dan WTI akan naik untuk sesi keenam, yang bagi Brent akan menjadi rekor terpanjang sejak Mei 2022.

Baca Juga

"Kekhawatiran pasokan yang membantu harga minyak lebih tinggi semalam kemungkinan besar berasal dari komentar CEO Chevron bahwa 'tidak banyak kapasitas ayunan' di pasar minyak," kata analis Commonwealth Bank of Australia Vivek Dhar dalam sebuah catatan.

"Kunci yang tidak diketahui untuk tahun 2023 adalah gangguan terhadap ekspor minyak dan produk olahan Rusia," katanya lagi.

Kepala Eksekutif Chevron Corp Mike Wirth mengatakan pada sebuah konferensi di Houston pada Senin (6/3/2023) bahwa kapal yang membawa minyak mentah dan produk Rusia sekarang harus menempuh jarak yang lebih jauh untuk mencapai pasar yang tidak terkena sanksi. Sementara persediaan minyak dan pasokan terbatas, membuat pasar global rentan terhadap gangguan pasokan tak terduga.

Data perdagangan minyak beragam dari China membatasi kenaikan, karena impor minyak mentah selama Januari dan Februari turun 1,3 persen dari setahun sebelumnya menjadi 10,4 juta barel per hari (bph), meskipun para analis menunjuk percepatan impor pada Februari sebagai tanda bahwa permintaan bahan bakar meningkat.

Bea Cukai tidak memberikan perincian untuk masing-masing bulan untuk menghindari ketidaksesuaian data dari liburan Tahun Baru Imlek yang biasanya turun selama periode tersebut. Namun, para analis yang melacak data pengiriman mengatakan impor China pada Januari berada di bawah level tahun sebelumnya.

Data tersebut juga menunjukkan bahwa ekspor produk minyak, seperti bensin, solar, dan bahan bakar jet dalam dua bulan pertama 2023 naik 74,2 persen dari tahun sebelumnya, meningkatkan kekhawatiran tentang permintaan bahan bakar di konsumen minyak terbesar kedua di dunia itu.

Di AS, laporan persediaan minyak mentah dan produk olahan pekan ini diperkirakan menunjukkan penurunan untuk pekan lalu, sebuah jajak pendapat awal Reuters menunjukkan pada Senin (6/3/2023).

Ini bisa menjadi penurunan pertama dalam 10 pekan, dengan mempertimbangkan data Badan Informasi Energi resmi sebelumnya.

Laporan pekanan dari American Petroleum Institute (API), sebuah kelompok industri, dijadwalkan pada pukul 16.30 waktu setempat (21.30 GMT) pada Selasa, dan pada Rabu pukul 10.30 (15.30 GMT) dari Badan Informasi Energi AS.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement