Selasa 21 Feb 2023 20:27 WIB

Putin Singgung Pedofilia hingga LGBT dalam Pidato Kenegaraan

Putin juga mengkritik sikap Barat dan nilai moral yang rusak.

Rep: Amri Amrullah/ Red: Nidia Zuraya
Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan pidato kenegaraan tahunannya pada Selasa (21/2/2023), setelah pada tahun lalu pidato rutin itu sempat ditunda. Dalam pidato kenegaraannya yang hampir bertepatan jelang setahun serangan pasukan Rusia ke Ukraina, Putin mengkritik sikap Barat dan nilai moral yang rusak, mulai dari soal perang, Pedofilia hingga LBGT.
Foto: EPA-EFE/SPUTNIK/KREMLIN POOL / POOL MANDATORY
Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan pidato kenegaraan tahunannya pada Selasa (21/2/2023), setelah pada tahun lalu pidato rutin itu sempat ditunda. Dalam pidato kenegaraannya yang hampir bertepatan jelang setahun serangan pasukan Rusia ke Ukraina, Putin mengkritik sikap Barat dan nilai moral yang rusak, mulai dari soal perang, Pedofilia hingga LBGT.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan pidato kenegaraan tahunannya pada Selasa (21/2/2023), setelah pada tahun lalu pidato rutin itu sempat ditunda. Dalam pidato kenegaraannya yang hampir bertepatan jelang setahun serangan pasukan Rusia ke Ukraina, Putin mengkritik sikap Barat dan nilai moral yang rusak, mulai dari soal perang, Pedofilia hingga LBGT.

Putin mengklaim pedofilia adalah normal di Barat dalam pidatonya di hadapan para pejabat, elit politik dan militer Rusia. Putin mengatakan bahwa di Barat bahkan pedofilia diumumkan sebagai hal yang normal.

Baca Juga

Dia mengatakan, negara-negara Barat telah mengakui pernikahan sesama jenis. Kata Putin, mereka menyebut, “Tidak apa-apa. Mereka sudah dewasa. Mereka memiliki hak untuk menjalani hidup mereka. Kami selalu sangat toleran terhadap hal ini di Rusia,” ujar Putin seperti dikutip The Telegraph.

Namun, Putin menegaskan, kitab suci mengatakan pernikahan adalah antara pria dan wanita, dan dia juga mengutip laporan media bahwa gereja Anglikan sedang mempertimbangkan istilah netral gender untuk Tuhan.

Dalam pidato panjangnya, Putin bersumpah untuk melanjutkan perang selama setahun Rusia di Ukraina dan menuduh aliansi NATO pimpinan AS mengipasi bara api konflik dengan keyakinan keliru bahwa cara itu bisa mengalahkan Rusia.

Diapit oleh empat bendera tiga warna Rusia di kedua sisinya, Putin mengatakan kepada hadirin bahwa Rusia akan “dengan hati-hati dan konsisten menyelesaikan tugas yang kita hadapi.”

Putin mengatakan Rusia telah melakukan apa saja untuk menghindari perang, tetapi Ukraina yang didukung Barat telah merencanakan untuk menyerang Krimea. Dan Barat, kata Putin, telah membiarkan jin keluar dari botol di sejumlah wilayah di seluruh dunia dengan menabur kekacauan dan perang.

“Rakyat Ukraina sendiri telah menjadi sandera rezim Kiev dan penguasa Baratnya, yang sebenarnya telah menduduki negara ini dalam arti politik, militer, dan ekonomi,” kata Putin.

Konflik Ukraina sejauh ini merupakan pertaruhan terbesar oleh seorang kepala negara di Kremlin setidaknya sejak jatuhnya Uni Soviet tahun 1991 - dan pertaruhan yang menurut para pemimpin Barat seperti presiden AS Joe Biden harus kalah.

Pasukan Rusia telah mengalami tiga pembalikan medan perang utama sejak perang dimulai di Ukraina, tetapi masih menguasai sekitar seperlima wilayah Ukraina.

Puluhan ribu orang telah terbunuh, dan Putin, yang kini berusia 70 tahun sekarang, mengatakan Rusia terkunci dalam pertempuran eksistensial dengan Barat yang arogan. Dimana ia menyebut Barat ingin membentuk Rusia agar bisa mencuri sumber daya alamnya yang besar.

Barat dan Ukraina menolak narasi itu, dan mengatakan ekspansi NATO ke arah timur bukanlah pembenaran atas apa yang mereka katakan sebagai perampasan tanah gaya kekaisaran yang pasti akan gagal.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement