Jumat 16 Dec 2022 15:51 WIB

Gandeng BPOM, Pemprov Jateng Edukasi Pangan Aman di Ponpes

Sosialisasi dan edukasi di SD, SMP, dan SMA sudah banyak dilakukan.

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Yusuf Assidiq
Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, saat memberi sambutan pada pembukaan acara ‘Edukasi Pangan dan Jajanan yang Aman dan Bermutu di Ponpes’ yang dilaksanakan di Hotel Santika, Semarang, Jumat (16/12).
Foto: dok. humas prov Jateng)
Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, saat memberi sambutan pada pembukaan acara ‘Edukasi Pangan dan Jajanan yang Aman dan Bermutu di Ponpes’ yang dilaksanakan di Hotel Santika, Semarang, Jumat (16/12).

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Edukasi mengenai pangan aman, sehat, dan bermutu dinilai penting bagi  warga lingkungan pondok pesantren (ponpes). Sejauh ini, edukasi tentang pangan aman, sehat, dan bermutu masih menyentuh lingkungan pendidikan formal.

Untuk itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah menggandeng Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Semarang, menggelar sosialisasi dan edukasi tentang pentingnya menjaga mutu dan keamanan pangan maupun jajanan di lingkungan ponpes di Jateng.

“Untuk sosialisasi dan edukasi di lingkungan SD, SMP, dan SMA sudah banyak dilakukan, sekarang giliran lingkungan ponpes juga perlu,” ungkap Wakil Gubernur (Wagub) Jateng, Taj Yasin Maimoen, saat memberi sambutan pada pembukaan acara ‘Edukasi Pangan dan Jajanan Aman dan Bermutu di Ponpes’ yang dilaksanakan di Hotel Santika, Semarang, Jumat (16/12/2022).

Menurut wagub, sosialisasi pangan aman dan bermutu menjadi program yang akan dimulai pemprov bersama dengan BPOM Semarang. Hal ini bertujuan mengajak santri ponpes untuk meningkatkan perhatian dalam menjaga kesehatan dan kebersihan, melalui asupan pangan yang aman, sehat, dan bermutu.

“Karena persoalan ini juga ditekankan dalam ajaran agama,” tegasnya. Taj Yasin juga menyampaikan, sosialisasi dan edukasi terkait pangan yang aman dan bermutu penting digencarkan di ponpes-ponpes di berbagai daerah di Jateng.

Khususnya di lingkungan ponpes yang jumlah santrinya cukup banyak. Maka wagub berharap semua peserta yang mengikuti edukasi kali ini juga harus menginisiasi untuk pertemuan-pertemuan berikutnya.

“Teknisnya nanti bisa dikerjasamakan dengan dinas kesehatan (dinkes) provinsi maupun kabupaten/kota terkait dengan narasumber dari BPOM atau praktisi gizi dan makanan sehat lainnya,” tambah wagub.

Terlebih, lanjut Taj Yasin, pandemi Covid-19 juga belum usai. Maka, menjaga kebersihan serta  ketahanan tubuh dengan asupan makanan yang sehat sangat penting untuk menghindari penularan virus yang  membahayakan tersebut.

Selain itu wagub juga mengingatkan agar masyarakat memilih dan membeli obat dan makanan yang aman dengan selalu mengecek kemasan, label, izin edar, dan masa kedaluwarsanya (Cek KLIK) dengan cermat.

“Dengan melakukan Cek KLIK, diharapkan masyarakat terhindar dari obat dan makanan yang berbahaya dan tidak memenuhi syarat,” tegasnya.  

Sementara itu, Kepala BBPOM Semarang, Sandra MP Linthin menjelaskan, pihaknya telah melakukan pengawasan untuk program pangan jajanan anak sejak 2012. Untuk 2022, BBPOM Semarang sudah melakukan intervensi sekitar 3.000 sekolah.

Baik sekolah tingkat SD, SMP, maupun SMA di Jateng. Sedangkan untuk ponpes di bawah Kementerian Agama baru sekitar lima persen dari ribuan lembaga pendidikan agama yang ada.

Dalam waktu dekat, sosialisasi dan edukasi ini bakal masuk ke pesantren-pesantren. “Makanya, kami harapkan BPOM Semarang bisa berkoordinasi dengan Kanwil Kemenag, guna mendapatkan data pesantren mana saja yang akan diutamakan dengan pertimbangan jumlah santri," ujarnya.

Kegiatan sosialisasi edukasi pangan aman dan bermutu di lingkungan pesantren akan mulai digencarkan. Melalui kegiatan itu, para pengurus ponpes dan santri dapat mengetahui dan memahami bagaimana para santri bisa mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement