Jumat 11 Nov 2022 05:32 WIB

WHO Sebut Pneumonia Masih Jadi Pembunuh Nomor Satu Balita

Pneumonia jadi pembunuh nomor satu karena serang organ vital dan ganggu metabolisme

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Ahli Respirologi Anak Amiruddin Laompo mengutip data dari organisasi kesehatan dunia PBB (WHO) bahwa penyakit pneumonia (radamg paru-paru) masih menjadi pembunuh nomor satu anak bawah lima tahun (balita). Kematian akibat pneumonia di Indonesia juga masih tinggi, bisa mencapai 100 ribu dalam setahun.
Ahli Respirologi Anak Amiruddin Laompo mengutip data dari organisasi kesehatan dunia PBB (WHO) bahwa penyakit pneumonia (radamg paru-paru) masih menjadi pembunuh nomor satu anak bawah lima tahun (balita). Kematian akibat pneumonia di Indonesia juga masih tinggi, bisa mencapai 100 ribu dalam setahun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ahli Respirologi Anak Amiruddin Laompo mengutip data dari organisasi kesehatan dunia PBB (WHO) bahwa penyakit pneumonia (radamg paru-paru) masih menjadi pembunuh nomor satu anak bawah lima tahun (balita). Kematian akibat pneumonia di Indonesia juga masih tinggi, bisa mencapai 100 ribu dalam setahun.

"WHO mengatakan pneumonia pembumuh nomor satu pada balita karena menyerang organ vital dan bisa mengganggu metabolisme anak," kata Amiruddin, Kamis (10/11/2022).

Ia mengingatkan, anak-anak berumur di bawah 5 tahun rentan terkena pneumonia. Sedangkan anak usia 5 tahun ke atas kekebalan tubuhnya lebih bagus. 

Kemudian, metabolisme yang terganggu ini akhirnya bisa menyebabkan kematian. Jadi, ia mengingatkan pneumonia pada anak sangat berbahaya.

Bahkan ia menyebutkan, kematian akibat pneumonia di Indonesia masih sangat tinggi, bisa mencapai 100 ribu dalam setahun. Ia menambahkan, dalam rangka memperingati hari pneumonia sedunia 12 November besok, ternyata pneumonia masih jadi masalah kesehatan di Indonesia, bahkan seluruh dunia.

Lebih lanjut ia menjelaskan, pneumonia merupakan penyakit infeksi akut dan menyerang organ tubuh paru-paru. Penyebabnya banyak, mulai dari virus, bakteri, kuman, hingga zat kimia.

Namun, umumnya disebabkan oleh Streptococcus dan Haemophilus influenza atau bisa juga pneumonia yang disebabkan oleh adenovirus. Jadi, ia meminta harus dicari tahu pemicunya.

Kemudian, kalau sudah ditegakkan sebagai pneumonia akibat bakteri, ia menyebutkan pihak rumah sakit (RS) wajib memberikan antibiotik. Sebab, 60 sampai 70 persen pneumonia disebabkan oleh bakteri.

Kemudian, bakteri ini mudah mengancam hidup penderita karena terjadi gangguan pertukaran oksigen dan karbon dioksida (CO2) sehingga bisa mengancam metabolisme dan mengancam penderita, apalagi balita di bawah setahun. Ia menjelaskan, penyakit pneumonia menular dari orang ke orang melalui udara dan percikan penderita yang mengalami bakteri.

Seperti diketahui, dia melanjutkan, ketika batuk atau bersin kemudian virusnya keluar dan melayang di udara. Akhirnya pneumonia sangat mudah menular saat bersin atau bicara. 

"Jadi, insiden pneumonia yang masih tinggi karena cara penularannya bakteri atau virus yang menyerang paru-paru atau saluran pernapasan," ujarnya.

Oleh karena itu, ia mengingatkan siapapun yang dekat dengan penderita pneumonia kemudian bisa masuk ke paru-paru orang sehat. Akhirnya, insiden pneumonia jadi tinggi "Untuk mencegahnya sangat tepat kalau pakai masker," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement