Senin 09 May 2022 06:26 WIB

Kelompok G7 akan Setop Impor Minyak dari Rusia

G7 akan melawan upaya rezim Rusia untuk menyebarkan propagandanya.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah
FILE - Pasukan Rusia berbaris selama parade militer Hari Kemenangan untuk merayakan 74 tahun sejak kemenangan dalam Perang Dunia II di Lapangan Merah di Moskow, Rusia, pada 9 Mei 2019.
Foto: AP/Alexander Zemlianichenko
FILE - Pasukan Rusia berbaris selama parade militer Hari Kemenangan untuk merayakan 74 tahun sejak kemenangan dalam Perang Dunia II di Lapangan Merah di Moskow, Rusia, pada 9 Mei 2019.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Negara anggota G7 berjanji melarang atau menghentikan impor minyak dari Rusia. Langkah itu masih terkait keputusan Moskow menyerang Ukraina.

“Kami berkomitmen menghapus secara bertahap ketergantungan kami pada energi Rusia, termasuk dengan menghapus atau melarang impor minyak Rusia,” demikian bunyi pernyataan tertulis para pemimpin negara anggota G7 setelah melangsungkan pertemuan daring yang turut diikuti Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Ahad (8/5/2022), dikutip Anadolu Agency.

Baca Juga

Selain itu, G7 berencana menerapkan sanksi lain, yakni dengan melarang atau mencegah penyediaan layanan utama yang menjadi sandaran Rusia. G7 menegaskan kembali komitmen mereka untuk melanjutkan tindakan terhadap bank-bank Rusia yang terkait dengan ekonomi global dan secara sistemik kritis terhadap sistem keuangan Rusia.

“Kami akan melanjutkan upaya kami melawan upaya rezim Rusia untuk menyebarkan propagandanya. Perusahaan swasta yang terpandang tidak boleh memberikan pendapatan kepada rezim Rusia atau afiliasinya yang memberi makan mesin perang Rusia,” kata para pemimpin G7.

Tak hanya itu, G7 juga bakal membidik elite keuangan dan anggota keluarganya yang mendukung Presiden Rusia Vladimir Putin dalam upaya perangnya di Ukraina. “Konsisten dengan otoritas nasional kami, kami akan menjatuhkan sanksi pada individu-individu tambahan,” katanya.

Anggota G7 terdiri atas Inggris, Amerika Serikat (AS), Kanada, Jepang, Jerman, Prancis, dan Italia plus Uni Eropa. Sejak Rusia melancarkan serangan ke Ukraina pada 24 Februari, negara-negara tersebut dengan vokal melayangkan kecaman terhadap Moskow. Selain menyokong Ukraina dengan bantuan militer, mereka berusaha mengisolasi Rusia secara ekonomi.

Sejauh ini, serangan Rusia ke Ukraina dilaporkan telah membunuh lebih dari 3.300 warga sipil. Jumlah aslinya diperkirakan jauh lebih tinggi. Konflik pun telah menyebabkan lebih dari 5,8 juta warga Ukraina mengungsi ke negara-negara tetangga. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement