Ahad 30 Jan 2022 06:49 WIB

Basreng Jabur Blenak, Lahir pada Masa Pandemi, Bersiap Tembus Ekspor

Jasa pengiriman juga sangat berpengaruh terhadap penjualan basreng milik Cecep.

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Partner
.
.

Basreng 'Jabur Blenak'. (Lilis Sri Handayani)

INDRAMAYU – Pandemi Covid-19 telah melahirkan perubahan baru dalam kebiasaan masyarakat, termasuk dalam aktivitas jual beli. Untuk menghindari kontak langsung yang berpeluang menjadi media penularan Covid-19, aktivitas jual beli banyak dilakukan melalui online. Hal itu pula yang mendorong Cecep Rohani (29), untuk berbisnis kuliner secara online. Dengan produk basreng ‘Jabur Blenak’ miliknya, dia kini bersiap menembus pasar ekspor.

Cecep awalnya tak pernah berpikir untuk terjun di dunia bisnis. Kesehariannya hanya diisi dengan bekerja sebagai karyawan di salah satu toserba di Kecamatan/Kabupaten Indramayu. Begitu pula dengan istrinya, Windi Meidawati (26), yang juga menjadi karyawati toserba di wilayah Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu.

Namun, hadirnya pandemi Covid-19, telah menyadarkan Cecep mengenai cerahnya prospek bisnis online. Apalagi, pada pertengahan 2021, gelombang kedua pandemi Covid-19 di Indonesia terbilang parah. Pemerintah akhirnya menetapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level empat di berbagai daerah. Aktivitas perekonomian pun menjadi terbatas.

Dengan kondisi itu, Cecep semakin mantap untuk memulai bisnis online. Dia pun mencari informasi di internet mengenai produk yang memiliki pangsa pasar luas. Pilihannya kemudian jatuh pada produk kuliner berupa jajanan (snack).

‘’Itu juga passion saya karena memang suka cemilan. Saya lihat-lihat di market place, penjualan basreng ternyata bagus. Akhirnya saya coba berjualan basreng,’’ kata Cecep, saat ditemui di rumahnya di Gang Merata Jaya, Desa Kalimati, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Sabtu (29/1/2022).

Tanpa sedikitpun keahlian membuat basreng, Cecep dan istrinya belajar dari nol cara membuat basreng melalui YouTube. Namun, hasilnya ternyata tak sesuai ekspektasi. Basrengnya alot (keras), tak layak jual.

Tak putus asa, Cecep dan istrinya terus mencoba. Selama tiga bulan uji coba pada pertengahan 2021, akhirnya mereka berhasil memperoleh basreng dengan tekstur yang pas, tidak alot, empuk tapi tetap renyah.

Cecep Rohani. (Lilis Sri Handayani)

Setelah itu, pasangan yang dikaruniai satu orang anak itu kembali uji coba untuk menemukan resep bumbunya. Dengan rempah-rempah pilihan, mereka membuat basreng dengan tiga rasa, yakni original, pedas asin dan pedas manis.

Tes pasar pun dilakukan dengan langsung menjualnya di salah satu market place. Hasilnya, ada satu orang pembeli dari Jawa Timur, yang memberikan komentar.

‘’Katanya rasa basrengnya enak. Nah dari situlah kita semangat,’’ kata Cecep.

Komentar itu memang tepat. Basreng ‘Jabur Blenak’ memang enak, rasa bumbunya pas, bikin orang yang memakannya jadi ketagihan.

Cecep pun menyadari, kemasan juga turut berpengaruh pada penilaian produk makanan. Karenanya, dia memilih kemasan aluminium foil food grade dengan desain yang menarik.

Cecep mengemas basrengnya dengan kemasan 40 gram seharga Rp 3.650, kemasan 88 gram seharga Rp 10 ribu dan kemasan toples. Untuk toples seberat 300 gram, dihargai Rp 20 ribu, toples seberat 500 gram Rp 35 ribu, dan toples 1 kg harganya mencapai Rp 65 ribu.

Cecep juga sengaja mencari merek jualan yang akan membuat orang penasaran sekaligus mudah diingat. Pilihannya jatuh pada nama ‘Jabur Blenak’. Dalam bahasa Indramayu, jabur blenak berarti jajanan tidak enak.

‘’Mungkin orang akan berpikir, jabur blenak (jajanan tidak enak), tapi membuat mereka jadi penasaran. Setelah mencoba dan ternyata rasanya enak, akhirnya orang akan beli lagi,’’ tutur Cecep.

Dengan modal awal hanya Rp 50 ribu, Cecep mulai memproduksi basreng ‘Jabur Blenak’ sebanyak 15 bungkus per hari. Hanya dalam waktu tiga bulan, permintaan basrengnya terus melejit. Untuk kemasan 40 gram, rata-rata terjual 300 bungkus per hari. Sedangkan kemasan 88 gram, rata-rata terjual 100 bungkus per hari. Sementara untuk kemasan toples, terjual puluhan kilogram per hari.

Dalam berjualan basreng ‘Jabur Blenak’, Cecep sepenuhnya mengandalkan penjualan secara online, baik melalui Facebook maupun market place. Tak hanya rasa basreng yang enak, performa chat yang bagus kepada konsumen juga mendongkrak penjualan basrengnya.

Di salah satu market place, Cecep memperoleh bintang 4,9 dari penilaian konsumen. Dia juga menempati posisi ‘star plus’ karena penjualannya yang bagus dan konsisten, disamping traffic-nya yang juga stabil.

‘’Sudah ditawari (oleh salah satu market place) untuk ekspor karena volume penjualan bagus. Untuk itu, saya sedang mengurus izin PIRT-nya dulu (Pangan Industri Rumah Tangga),’’ terang Cecep.

Tak hanya rasa dan performa chat, jasa pengiriman juga sangat berpengaruh terhadap penjualan basreng milik Cecep. Pasalnya, penjualan basrengnya benar-benar hanya dilakukan secara online. Untuk itu, dia mengandalkan JNE.

‘’Pakai JNE lebih hemat dan cepat. Kemarin saya kirim lima kilogram basreng ke Karawang dan Bandung, tarifnya hanya Rp 12 ribu per kilogram. Ini paling murah dibandingkan yang lain,’’ cetus Cecep.

Pengiriman basreng ‘Jabur Blenak’ telah dilakukan ke berbagai daerah di Indonesia. Ada puluhan reseller yang membantu memasarkan jajanan tersebut.

‘’Paling banyak kiriman ke Bali. Malah basreng ‘Jabur Blenak’ lebih dikenal di Bali dibandingkan di sini,’’ tandas Cecep, sambil sibuk memasukkan 100 kemasan basreng 40 gram ke dalam kardus untuk dikirimkan melalui JNE. N lilis sri handayani

#JNE31tahun

#JNEMajuIndonesia

#JNEcontentcompetition2021

sumber : https://matapantura.republika.co.id/posts/35825/basreng-jabur-blenak-lahir-di-masa-pandemi-bersiap-tembus-ekspor
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement