Kamis 23 Dec 2021 09:42 WIB

Aktivitas Gunung Semeru Masih Didominasi Gempa Guguran

Saat ini tingkat aktivitas gunung api Semeru masih level III atau siaga.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Yusuf Assidiq
Warga melihat kepulan awan panas guguran Gunung Semeru dari Desa Sumber Mujur, Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Ahad (19/12/2021). Erupsi Gunung Semeru kembali terjadi pada pukul 05.31 Wib yang mengeluarkan Awan Panas Guguran (APG) dari bukaan baru aliran lava di sisi tenggara.
Foto: Antara/Hamka Agung
Warga melihat kepulan awan panas guguran Gunung Semeru dari Desa Sumber Mujur, Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Ahad (19/12/2021). Erupsi Gunung Semeru kembali terjadi pada pukul 05.31 Wib yang mengeluarkan Awan Panas Guguran (APG) dari bukaan baru aliran lava di sisi tenggara.

REPUBLIKA.CO.ID, LUMAJANG -- Gunung Semeru masih mengalami gempa guguran pada Kamis (23/12) periode pukul 00.00 sampai 06.00 WIB. Gunung berketinggian 3676 mdpl ini juga tercatat mengalami sejumlah gempa embusan dan gempa tektonik.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Semeru, Yadi Yuliandi mengatakan, Gunung Semeru secara pengamatan visual terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. "Namun asap kawah nihil (tidak terlihat)," kata Yadi dalam laporan resminya, Kamis (23/12).

Adapun untuk hasil pengamatan kegempaan, aktivitas Gunung Semeru masih didominasi gempa guguran. Menurut Yadi, Gunung Semeru masih mengalami sembilan kali gempa guguran. Amplitudonya sekitar dua hingga delapan milimeter (mm) dan lama gempa 25 sampai 50 detik.

Gunung Semeru juga mengalami tiga kali gempa embusan dengan amplitudo tiga sampai sembilan mm. Gempa jenis ini berlangsung sekitar 35 sampai 65 detik.

Yadi juga melaporkan Semeru mengalami dua kali gempa tektonik lokal dengan amplitudo 22-24 mm. Lalu S-P 4.3 sampai 8.5 detik sedangkan lama gempanya 35 hingga 45 detik. Kemudian juga tercatat satu kali gempa Tektonik jauh dengan amplitudo 20 mm, S-P 13 detik dan lama gempa 35 detik.

Menurut Yadi, saat ini tingkat aktivitas gunung api Semeru  masih level III atau siaga. Sebab itu, Yadi merekomendasikan warga untuk tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan. Warga harus menjauhi area tersebut sekitar 13 km dari puncak (pusat erupsi).

Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan. Hal ini karena area tersebut berpotensi terlanda perluasan awan panas. Bahkan, juga berpotensi terjadi aliran lahar hingga jarak 17 kilometer (km) dari puncak.

Warga diminta tidak beraktivitas dalam radius lima km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru. Pasalnya, area dengan jarak tersebut rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar). Selanjutnya, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi awan panas guguran (APG), guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Semeru.

Hal ini terutama di sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. "Serta mewaspadai potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan," kata dia menambahkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement