Rabu 15 Dec 2021 12:39 WIB

India Kalah di WTO dalam Sengketa Subsidi Ekspor Gula

India merupakan produsen gula terbesar dunia setelah Brasil.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya
Proses produksi gula dalam pabrik (ilustrasi). Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memutuskan India melanggar aturan perdagangan internasional ketika menawarkan subsidi berlebihan untuk produksi dan ekspor gula dan tebu.
Foto: fxcuisine.com
Proses produksi gula dalam pabrik (ilustrasi). Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memutuskan India melanggar aturan perdagangan internasional ketika menawarkan subsidi berlebihan untuk produksi dan ekspor gula dan tebu.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memutuskan India melanggar aturan perdagangan internasional ketika menawarkan subsidi berlebihan untuk produksi dan ekspor gula dan tebu.

Seperti dilansir dari Bloomberg, Rabu (15/12), kebijakan India tidak konsisten dengan aturan WTO yang mengatur tingkat di mana negara dapat mensubsidi produksi pertanian dalam negeri, menurut keputusan yang diposting Selasa di situs WTO.

Baca Juga

Di bawah aturan WTO, subsidi gula India dibatasi pada batas 10 persen dari nilai produksi.

India sebagai produsen gula terbesar di dunia setelah Brasil telah berjanji untuk menahan diri dari mensubsidi ekspor gula tahun ini karena harga global yang tinggi. Pemerintah sebelumnya menyetujui subsidi sebesar 475 juta dolar AS untuk musim tanam 2020-2021.

India dapat mengajukan banding atas putusan itu kapan saja dalam 60 hari ke depan. Itu akan menjadi sebuah langkah seperti veto karena badan banding WTO tidak berfungsi.

WTO mengatakan India melanggar perjanjian pertanian WTO ketika memberikan subsidi khusus produk yang tidak dikecualikan secara berlebihan kepada produsen tebu antara tahun 2014 dan 2019.

WTO mengatakan India harus menghapus subsidi ilegalnya dalam waktu 120 hari sejak adopsi laporan tersebut.

Perselisihan itu terjadi pada 2019 ketika Brasil, Australia, dan Guatemala mengajukan keluhan WTO paralel yang menuduh pemerintah India secara besar-besaran meningkatkan subsidi gulanya dan menerapkan kembali harga minimum gula. Itu dinilai menyebabkan peningkatan produksi gula yang melampaui permintaan domestik.

Negara-negara tersebut juga menentang legalitas keputusan India untuk menetapkan kuota ekspor minimum untuk pabrik gula domestik dan insentif ekspor lainnya yang menurut mereka mendistorsi harga pasar dunia.

Selama musim tanam 2018-2019, India menyetujui lusinan program bantuan tingkat federal dan negara bagian untuk industri gula yang secara kolektif melebihi 55 miliar rupee (730 juta dolar AS), kata Brasil dalam pengaduannya.

Temuan panel WTO "benar-benar tidak dapat diterima," kata kementerian perdagangan India dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa (14/12), menambahkan tindakannya pada gula konsisten dengan kewajibannya berdasarkan perjanjian WTO.

"India telah memulai semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi kepentingannya dan mengajukan banding ke WTO terhadap laporan tersebut, untuk melindungi kepentingan para petaninya," menurut pernyataan itu dikutip dari Bloomberg.

Harga gula mentah berjangka mencapai level tertinggi empat tahun terakhir pada bulan lalu karena pasokan dari Brasil terancam oleh harga energi yang tinggi. Ada kekhawatiran bahwa pabrik Brasil dapat membuat lebih banyak etanol dari tebu dan lebih sedikit gula pada saat tanaman di negara itu telah dilanda kekeringan dan embun beku.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement