Rabu 10 Nov 2021 18:52 WIB

Efek Konflik Internal China 1947-49 Bagi Indonesia

Efek konflik internal China 1947-49 bagi Indonesia dan sesudahnya

Bung Karno (kanan) &   Mao Tse Tung (kiri),
Foto: Southmorning post
Bung Karno (kanan) & Mao Tse Tung (kiri),

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ridwan Saidi, Politisi Senior, Sejarawan, dan Budayawan Betawi.

1. 1947-49.

Internal China bergolak rebut kuasa antara Komintang pimpinan Chiang Kai Sek vs Ku Chan Tang pimpin Mo Tse Tung. Polarisasi itu bergema di warung-warung China di kampung-kampung di Jakarta. Yang Ku Chan Tang pasang potret Mo Tse Tung depan warung, yang Komintang pajang potret Chiang Kai Sek. 

Bagaimana dengan media? Koran ibu kota Keng Po yang non komunis tapi juga bukan Ko Min Tang. Seleranya lebih intelek, apalagi Star Weekly, majalahnya. Keberpihakan koran Sin Po pada Ku Chan Tang terlalu jelas 

 

Pertikaian Mo Tse Tung vs Chiang Kai Sek melahirkan lagu di kalangan anak Betawi:

Mau Tse Tung Chiang Kai Sek

Gue pentung

Elu pengek

 

Mao Tse Tung

Kuchantang

Injek puntung

Elu pincang

  

2. 1963-65.

Film Tiongkok gusur Hollywood, jarang bioskop yang mau putar, akhirnya tak beredar. Kita kalau mau nonton terpaksa memilih film Rusia atau Tiongkok. Film Bollywood sejak 1962 tak beredar. Buat saya mending film Rusia, tema bervariasi. Film Rusia yang box office di jaman ini misalnya The cranes are flying yang bintangnya Tatyana Samoilova. Dia ditaksir Bung Karno.

Saya pernah nonton film Tiongkok, seperti biasa temanya hajar Nekolim. Nekolim ditampilkan bodoh, perut buncit. Saya mikir keras,  kok tokoh Nekolimnya pake kacamata item terus. Rupanya yang jadi nekolim China, supaya tak gampang ketauan dikacamatain. Ending  film, nekolim dikejar-kejar oleh orang China kampung dan Nekolim nyemplung di got. 

Kala itu dikabarkan Bung Karno sakit dan berobat sama sinshe di RRC. Sembuh. Nama sinshe berkibar. Sinshe-sinshe ke Jakarta jadi tamu negara. Turun di airport Kemayoran pada bekacamata item. Pas duduk mereka bejejeran sembari angkat kaki. Walau yg dengkulnya sudah letoy dibantu angkat kaki sama temannya. Supaya keren.

3. Jaman reformasi.

Saya heran, yang suruh mundur Pak Harto 'kan Menlu USA Medelin Albright via telpon, kok yang kemudian joget-joget China. Nengok kesana dua dasar warsa kemari semua jadi projek China. Jalan layang jalan buntung, semua itu projek China. Pembesar Indonesia pada mondar-mandir ke China, tokoh partai juga, malah ada partai yang kirim aktivisnya untuk dikader di sana. Pas HUT PKC  2021 ada yang menyebut Jin Ping Yang Mulia. 

Eh pas US Army datang mereka orang  pada bungkem. Tak satu yang berani omong.  Yah begitulah. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement