Ahad 05 Sep 2021 10:04 WIB

Vaksin Turunkan Risiko Long Covid Hingga 50 Persen

Dua dosis vaksin Covid-19 dapat menurunkan risiko long Covid secara signifikan.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Indira Rezkisari
Tenaga kesehatan memeriksa kondisi kesehatan pasien Covid-19. Pascasembuh dari Covid-19 ada sejumlah masalah kesehatan yang kerap masih mengintai atau dikenal dengan long covid.
Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Tenaga kesehatan memeriksa kondisi kesehatan pasien Covid-19. Pascasembuh dari Covid-19 ada sejumlah masalah kesehatan yang kerap masih mengintai atau dikenal dengan long covid.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Long Covid merupakan salah satu masalah kesehatan yang kini mengintai sebagian penyintas Covid-19. Vaksinasi Covid-19 yang lengkap dapat membantu menurunkan risiko long Covid hingga 50 persen.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), long Covid merupakan kondisi di mana gejala Covid-19 masih terjadi pada pekan keempat atau lebih setelah pertama kali terinfeksi SARS-CoV-2. Pada kasus long Covid-19, penyintas bisa mengalami beragam gejala seperti sesak napas, kelelahan, kesulitan berkonsentrasi, atau batuk.

Baca Juga

Menurut studi dalam Lancet Infectious Diseases Journal, pemberian dua dosis vaksin Covid-19 dapat menurunkan risiko long Covid secara signifikan. Penurunan risiko terkena long Covid setelah hari ke-28 terinfeksi SARS-CoV-2 bisa mencapai 50 persen pada individu yang sudah mendapatkan dua dosis vaksin Covid-19.

Studi ini melibatkan data dari 1,2 juta orang dewasa di Britania Raya. Pengumpulan data ini berlangsung sejak Desember 2020 sampai Juli 2021.

Selain menurunkan risiko long Covid, pemberian dua dosis vaksin Covid-19 juga tampak menurunkan risiko breakthrough infection dan risiko sakit berat akibat Covid-19. Breakthrough infection merupakan sebutan untuk kasus Covid-19 yang mengenai individu setelah divaksinasi.

Menurut studi, hanya ada 0,5 persen kasus breakthrough infection dalam waktu 14 hari setelah dosis pertama vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech, Moderna, atau Oxford-AstraZeneca diberikan. Angka kasus breakthrough infection ini turun menjadi 0,2 persen setelah dosis kedua diberikan.

Seperti dilansir WebMD, vaksin Covid-19 juga membantu meringankan kasus breakthrough infection. Sebanyak 63 persen individu yang sudah menerima dosis pertama vaksin Covid-19 mengalami breakthrough infection tanpa gejala atau asimtomatik. Pada individu penerima dua dosis, sebanyak 94 persen kasus breakthrough infection yang terjadi tidak bergejala.

"Kita ada pada titik kritis pandemi seiring dengan meningkatnya kasus di dunia karena varian Delta," ungkap salah satu peneliti Dr Claire Steves.

Dr Steves mengatakan kasus breakthrough infection memang bisa terjadi. Akan tetapi, hal tersebut tak mengurangi peran dan manfaat besar vaksin Covid-19 bagi masyarakat luas. "Vaksin-vaksin ini betul-betul bekerja sesuai dengan rencana, untuk menyelamatkan jiwa dan mencegah sakit berat," jelas Dr Steves.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement