Jumat 20 Oct 2017 16:48 WIB

Harga Cabai Mulai Melonjak

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Andi Nur Aminah
Seorang pembeli memilih cabai merah keriting di pasar tradisional (ilustrasi)
Foto: Akbar Tado/Antara
Seorang pembeli memilih cabai merah keriting di pasar tradisional (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, PURBALINGGA -- Setelah sempat anjlok hingga merugikan petani, harga cabai di pasaran saat ini mulai naik. Seperti cabai rawit merah yang tadinya hanya dihargai Rp 10 ribu per kg di pasaran, saat ini sudah melonjak hingga Rp 15 ribu per kg. Sedangkan cabai hijau, naik dari Rp 8.000 per kg menjadi Rp 12 ribu per kg.

"Sejak awal pekan kemarin, harga cabai memang mulai naik. Kenaikkannya, sekitar Rp 1.000 hingga Rp 5.000 per kg, tergantung kualitasnya," jelas Sumar, pedagang Pasar Induk Segamas, Jumat (20/10).

Namun dia menyebutkan, untuk harga cabai besar keriting, saat ini justru mengalami penurunan. Dari yang semula mencapai Rp 24 ribu per kg, sekarang menjadi Rp 20 ribu. "Mungkin karena banyak petani yang menanam jenis cabe ini, sehingga produksinya banyak," katanya.

Di Pasar Wage Banyumas, harga beberapa jenis cabai juga mengalami kenaikan yang sama. Wati (38), pedagang sayuran di pasar tersebut menyebutkan harga cabai memang selama ini memang paling sering mengalami fluktuasi. "Kalau sedang kemarau menjelang hujan, harga cabai pasti anjlok. Tapi kalau sedang musim hujan, pasti melonjak," jelasnya.

Menurutnya, naik turunya harga cabai ini disebabkan hasil panen petani. Pada musim penghujan, banyak tanaman cabai yang membusuk karena terserang hama. Namun pada musim kemarau, tanaman cabai biasanya akan tumbuh dengan baik sehingga hasil panen juga melimpah.

Pada akhir musim kemarau lalu, harga cabai yang anjlok sangat rendah memang sempat merugikan para petani. Seperti di sentra penghasil sayuran Desa Serang Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga, harga cabai hasil panen petani hanya dihargai Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per kg.

Dengan harga tersebut, petani sebenarnya sudah tidak mendapatkan keuntungan. Mengingat biaya petik, pupuk dan budidaya cabai cukup besar. "Tapi daripada tidak ada hasil sama sekali, kami tetap memanen agar bisa menutup biaya tanam," jelas Agus, seorang petani di desa setempat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement