Senin 09 Jan 2017 15:50 WIB

Tekan Harga, Sumarsono Imbau Warga DKI Tanam Cabai

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Bilal Ramadhan
Pedagang memilah cabai di Pasar Senen, Jakarta, Rabu (4/1) malam. Harga cabai di sejumah pasar tradisional di Jakarta mengalami kenaikan. Terutama harga cabai rawit merah melonjak hingga Rp 130.000/Kilogramnya,hal ini disebabkan karena tingginya curah huja
Foto: Republika/Prayogi
Pedagang memilah cabai di Pasar Senen, Jakarta, Rabu (4/1) malam. Harga cabai di sejumah pasar tradisional di Jakarta mengalami kenaikan. Terutama harga cabai rawit merah melonjak hingga Rp 130.000/Kilogramnya,hal ini disebabkan karena tingginya curah huja

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Sumarsono mengatakan harga cabai sudah mencapai sekitar Rp 150 ribu per kilogram dan harga cabai termurah menyentuh angka Rp 120 ribu per kilogram di Ibu Kota. Harga yang tinggi tersebut, Sumarsono mengatakan, dikarenakan rendahnya pasokan cabai.

"Pasokan kita idealnya 120 ton. Pasokan kita hari ini hanya 40-50 ton. Sehingga problem pasokan akibat daripada cuaca. Karena itu ada langkah-langkah Pemerintah DKI sudah keliling semua daerah, saya minta disuplai. Ternyata kondisinya sudah dikontrak oleh perusahaan-perusahaan lain," ujar Sumarsono di Balai Kota, Senin (9/1).

Agar stabil, Pemprov DKI Jakarta memutuskan untuk menanam cabai di lahan seluas 18 hektar di Tangerang melalui Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian (Dinas KPKP) DKI Jakarta. Lahan tersebut adalah milik Pemprov DKI Jakarta.

"Dan pola ini akan berlangsung terus tiap tahun, tiap tahun tidak hanya sekali atas ini. Sehingga harganya bisa ditekan," katanya.

Selain itu, ia pun mengusahakan kemungkinan-kemungkinan pasokan cabai dari daerah lain. Hal itu Sumarsono lakukan supaya harga cabai tidak meroket lebih dari Rp 150 ribu.

"Ya nanti kita usahain. Tapi kayaknya juga berat karena rupanya mereka sudah kontrak. Setiap ada produksi cabai kita minta, sudah dikontrak oleh perusahaan swasta. Sudah dikasihkan modal dan bibit," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement