Ahad 11 Oct 2015 13:24 WIB

Limbah Minyak Berbahaya Intai Warga Tarakan

Rep: Mas Alamil Huda/ Red: Andi Nur Aminah
Tumpahan minyak di laut. Ilustrasi
Foto: AP
Tumpahan minyak di laut. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, TARAKAN -- Genangan minyak muncul ke permukaan tanah di beberapa titik di Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Warnanya hitam pekat dan berbau cukup menyengat. Tanah di area sekitar minyak terasa gembur. Bukan gembur lantaran subur tapi justru rusak. Rumput ilalang di sekitarnya pun menjadi kering dan hitam seperti terbakar. Masyarakat lokal biasa menyebut minyak kotor ini, lantung.

Lantung telah menyebabkan kerusakan bangunan yang ada di sekitarnya. Salah satu ‘korban’ lantung adalah gedung akademi keperawatan (Akper) milik Pemerintah Kota Tarakan. Kondisi bangunan yang miring dan patah di beberapa bagian sudah tidak bisa ditolerir untuk digunakan beroperasi. Gedung yang berada di Kelurahan Kampung I Skip Kecamatan Tarakan Tengah ini terpaksa dirobohkan. Keselamatan manusia yang beraktivitas di dalamnya menjadi alasan utama pembongkaran.

Lantung yang muncul persis di belakang gedung Akper ini diketahui sejak beberapa tahun lalu. Berdasarkan laporan masyarakat yang masuk, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kemudian melakukan inventarisasi dan identifikasi pada awal 2014. Dari identifikasi awal, KLHK menemukan adanya lahan terkotaminasi limbah dan bahan berbahaya dan beracun dari lantung itu.

Limbah minyak berbahaya juga ditemukan di beberapa titik lain. Bahkan, selokan di kawasan komplek perkantoran wali kota Tarakan mengalir minyak berwarna hitam. Hasil penelitian KLHK, titik munculnya lantung di kantor wali kota ini ternyata satu garis patahan dengan bekas gedung Akper. Satu garis patahan itu membentang dari bagian utara Tarakan dan memanjang ke selatan sejauh puluhan kilometer. Di sekitar patahan itu mengalirkan lantung hingga mencemari lingkungan.

Area gedung Akper merupakan daerah paling utara di patahan tersebut. Kemudian secara berturut-turut ke selatan yakni di perumahan kedokteran, kantor wali kota, lapangan golf, dan Sekolah Dasar (SD) Don Bosco.

Terakhir di bagian selatan yakni rumah susun (rusun) yang baru selesai dibangun persis di depan Dinas Kesehatan Kota Tarakan yakni di Kelurahan Pamusian, Tarakan Tengah. Bahkan, rusun yang belum ditempati ini telah mengalami keretakan di beberapa bagian pondasinya. Paritnya pun teraliri lantung pekat berbau cukup menyengat.

Beberapa titik lokasi ditemukannya lantung ini berada dalam wilayah kerja pertambangan PT Pertamina EP Asset 5 dan PT. Medco EP Indonesia Blok Tarakan. Beberapa titik lain adanya lantung juga melewati area perumahan penduduk.

Persoalan pencemaran terhadap lingkungan merupakan hal serius. Sehingga permasalahan lahan terkontaminasi lantung tidak boleh diabaikan begitu saja.  “Kami memandang ini permasalahan yang sangat serius dan perlu dilakukan tindakan nyata untuk penanganan lahan terkontaminasi lantung di Tarakan,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya, Tuti Hendrawati Mintarsih di Tarakan, Ahad (11/10).

Menurut Tuti, masyarakat merupakan pihak yang paling dirugikan. Mereka terdampak langsung oleh limbah berbahaya berupa lantung ini. Kesehatan mereka pun terancam.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement