Sabtu 13 Dec 2014 06:00 WIB

Puzzle Pendidikan

Asma Nadia
Foto: Republika/Daan
Asma Nadia

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Asma Nadia

Di sebuah negeri hiduplah sekelompok masyarakat yang sangat cerdas. Anak-anaknya sangat pandai menaklukkan puzzle dengan berbagai tingkat tantangan.

Sejak sekolah dasar, seluruh murid sudah dilatih menaklukkan puzzle. Setiap semester mereka diuji untuk menemukan murid terbaik dalam menyelesaikan puzzle demi puzzle. Dari sekolah menengah pertama sampai tingkat menengah atas, hal itu juga dipelajari.

Orang tua menyediakan uang lebih agar anak-anak bisa mendalami puzzle lebih matang. Sementara, anak-anak menghabiskan setengah waktu dalam hidup mereka atau lebih untuk menguasai puzzle. Siapa pun yang mempunyai nilai tertinggi dalam bidang puzzle, otomatis akan menjadi kebanggaan masyarakat.

Pemerintah setempat bahkan menyediakan dana triliunan rupiah untuk membayar guru dan berbagai fasilitas demi mengembangkan materi puzzle agar 'otak-atik yang dianggap mencerdaskan otak itu' tidak hilang dalam masyarakat.

Akan tetapi, ada yang aneh dalam masyarakat cerdas ini. Setelah anak-anak menguasai, setelah semua biaya dikeluarkan, setelah semua waktu dihabiskan, ternyata setelah dewasa mereka tidak mendapatkan manfaat dari keahlian menguasai puzzle.

"Di sini keahlian itu tidak berguna, kami akan mengadakan training khusus untuk setiap pegawai baru yang bekerja," seru seorang supervisor kepada seorang lulusan sekolah dengan nilai puzzle terbaik yang sedang melamar kerja.

Sang anak yang mendengar ungkapan tersebut menjadi bingung. "Lalu, apa gunanya kami belajar begitu banyak puzzle, begitu banyak waktu dibuang jika ternyata tidak bermanfaat?" Dia tidak sadar bahwa pertanyaannya mewakili jutaan anak di negerinya, mungkin bahkan di banyak bagian dunia.

Lalu, apakah puzzle tersebut? Puzzle di atas tidak lain adalah simbolisasi pelajaran atau mata pelajaran di sekolah yang tidak jelas manfaat atau aplikasinya pada masa depan. Saat ini, dunia pendidikan sedang dibingungkan dengan kurikulum yang sedang berjalan, apakah akan tetap digunakan atau menyusun kurikulum baru?

Sejak saya SD, setiap ganti menteri (seperti sebuah kewajiban) kurikulum harus pula berganti. Anak-anak diperlakukan seolah kelinci percobaan. Tiap tahun berganti, menteri berganti, kurikulum berganti, tapi tidak pernah menyentuh inti dari masalah penting yang ada dalam kurikulum pendidikan.

Perubahan kurikulum biasanya hanya terkait pada bagaimana agar anak menguasai, mampu memahami, bisa tertarik atau mencintai mata pelajaran. Ada hal-hal lain yang dibahas, tetapi tetap tidak mengulik persoalan mendasar. Apakah pelajaran yang ada penting dipelajari atau tidak? Apakah pelajaran ini harus dikuasai semua orang? Apakah beberapa bagian dari mata pelajaran itu sebaiknya dilepas dari kurikulum atau dipaksakan untuk dipelajari anak? Padahal, ini pertanyaan yang paling penting.

Kini, semua anak dijejali segala mata pelajaran di mana banyak yang tidak jelas bobotnya. Tidak jelas mana yang penting mana yang tidak. Setiap guru mata pelajaran ingin agar pelajarannya diutamakan.

Saya teringat bertemu teman-teman lama yang dulu dikenal cerdas, lulusan dari berbagai universitas ternama dan kini sudah mempunyai pekerjaan dan kehidupan mapan. Kepada mereka saya bertanya, apakah pelajaran sin, cos, tangen yang membuat pusing dulu ada terpakai dalam praktik kehidupan? Semua mengatakan "tidak".

Apakah pelajaran nama planet, luas planet, jumlah satelit dalam setiap planet, dan berbagai pengetahuan tentang tata surya memberi manfaat bagi mereka dalam kehidupan? Berguna dalam pekerjaan? Mereka mengatakan "tidak".

Mungkin ada puluhan atau bahkan ratusan pertanyaan lain yang akan menunjukkan betapa banyak pelajaran yang kita pelajari di sekolah ternyata tidak ada manfaatnya bagi kehidupan atau setidaknya, manfaatnya tidak sebanding dengan kepusingan dan waktu yang dibebankan. Atau, hanya segelintir sekali orang yang kembali bersinggungan dengannya ketika dewasa.

Lalu, mengapa seluruh siswa diharuskan mempelajari? Mengapa kita cekoki anak-anak didik dengan ilmu yang tidak nyata manfaatnya kelak di kehidupan? Lalu, buat apa mereka belajar puzzle yang tidak banyak benefitnya buat masa depan? Jika memang ingin mengevaluasi kurikulum, kini saatnya berpikir ilmu mana yang bermanfaat nyata dan mana yang tidak.

Jangan bebankan anak-anak dengan ilmu yang tidak jelas kegunaannya bagi kehidupan, dengan kewajiban yang tidak jelas benefitnya. Sebab, masa depan tanah tercinta ada di pundak mereka.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement