Jumat 15 Mar 2024 05:45 WIB

Al-Fatihah Tegaskan Yahudi Kaum Dimurkai, Apa Sebabnya? Ini Penjelasan Ahli Tafsir

Yahudi kerap membunuh para nabi dan mengubah syariat mereka

Rep: Umar Mukhtar / Red: Nashih Nashrullah
Yahudi Israel (ilustrasi). Yahudi kerap membunuh para nabi dan mengubah syariat mereka
Foto: Reuters/Ronen Zvulun
Yahudi Israel (ilustrasi). Yahudi kerap membunuh para nabi dan mengubah syariat mereka

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Bangsa Yahudi adalah kaum yang dimurkai Allah SWT. Penegasan ini sebagaimana disebutkan para ahli tafsir, atas surat al-fatihah ayat 7. 

Ibn Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan riwayat yang berisi jawaban Nabi Muhammad Saw.

Baca Juga

‎Ada riwayat yang berbeda namun secara umum, menurut Ibn Hajar, jawaban Nabi bahwa yang dimurkai itu adakah Yahudi dan yang sesat itu adalah Nasrani. Riwayatnya sahih dan ada pula yang hasan.

Bahkan banyak ulama tafsir, seperti Zamakhsyari dalam al-Kasyaf, menyebutkan rujukan lain dalam Alquran untuk menguatkan pendapat ini, yaitu al-Maidah: 60 dan al-Maidah: 77. Itulah sebabnya mayoritas ulama tafsir mengikuti pendapat ini. Lantas mengapa Allah SWT murka dengan Bangsa Yahudi?

Mengapa Allah SWT Murka kepada Kaum Yahudi? Semula, Allah SWT memuliakan bani Israel di masa awal dan melebihkan mereka atas dunia pada zamannya. Allah SWT juga mengangkat nabi dan raja di antara mereka. Allah SWT meninggikan status mereka di atas kaum Koptik dan Kana'an yang ada pada zaman itu.

Allah SWT mengaruniai mereka kemuliaan selama masa ketaatan mereka kepada-Nya. Alalh memberi mereka kemenangan dan memampukan mereka untuk hidup di zaman Musa, Yosua, Daud, dan Sulaiman.

Mereka mencoba membunuh Nabi Isa AS. Bahkan ulama tafsir sekaligus sejarawan Muslim, Imam Ath-Thabari, mengungkapkan Bani Israil membunuh Nabi Zakaria dan Nabi Yahya. Kemudian Allah menimpakan kehinaan dan kemiskinan kepada mereka, murka kepada mereka serta mengutuk mereka.

Padahal, kaum Yahudi dengan nabinya Nabi Musa AS, sebelumnya telah diselamatkan dari Fir'aun yang menindas mereka. Allah telah mewariskan kepada kaum Nabi Musa AS yang telah ditindas oleh Firaun, bagian timur dan barat tanah yang diberkahi. Allah SWT juga membinasakan musuh mereka.

Semua itu karena ketaatan mereka pada agama. Nabi Musa AS juga berkata kepada kaumnya itu ihwal warisan tanah kepada Bani Israil.

 

قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا ۖ إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

"Musa berkata kepada kaumnya, "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi (ini) milik Allah; diwariskan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (QS Al A'raf ayat 128)

Sesudah itu, berabad-abad lamanya, datanglah di antara mereka yang meninggalkan perintah dan petunjuk Allah SWT serta menuruti hawa nafsunya sehingga bila ada rasul datang kepada mereka dengan membawa apa yang tidak dikehendaki oleh jiwa mereka, maka akan ada sekelompok orang yang mengingkarinya.

Dengan demikian, tidak ada pujian bagi orang-orang Yahudi di zaman ini atas ketidakimanan mereka kepada Allah SWT, perlawanan mereka kepada Allah, dan kerusakan yang mereka lakukan di bumi Allah SWT. Disebutkan dalam Alquran:

 يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ {المائدة:21}.

"(Nabi Musa AS berkata), Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), sehingga kamu menjadi orang-orang yang merugi." (QS Al-Maidah Ayat 21)

Melalui ayat tersebut, Allah SWT memerintahkan dan menetapkan bagi pengikut Nabi Musa AS yang beriman kepada Allah SWT untuk membalas musuh-musuh Allah yang merebut Tanah Suci yakni tanah Palestina dan sekitarnya.

Allah SWT juga memerintahkan mereka untuk mengusir orang-orang kafir dari sana. Tidak boleh bagi orang-orang kafir untuk menguasai dan memerintah rakyatnya di tanah tersebut dalam kekafiran dan kemusyrikan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement