Jumat 28 Apr 2023 13:35 WIB

Fenomena Cuaca Panas di Indonesia, Pakar UGM Ungkap Penyebabnya

Data kecepatan angin di wilayah Indonesia cukup rendah.

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Yusuf Assidiq
 Seorang wanita melindungi diri dari sinar matahari di bawah payung saat cuaca panas (ilustrasi)
Foto: EPA-EFE/RUNGROJ YONGRIT
Seorang wanita melindungi diri dari sinar matahari di bawah payung saat cuaca panas (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN  -- Cuaca panas terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Pakar iklim dan bencana Universitas Gadjah Mada (UGM), Emilya Nurjani, pun menjelaskan faktor penyebabnya.

Menurut dia, cuaca panas yang terjadi bukan disebabkan oleh gelombang panas. Dikatakan, gelombang panas (heat wave) merupakan kondisi relatif atau periode cuaca panas yang berkepanjangan terhadap kondisi normal disertai kelembaban tinggi.

"Gelombang panas terjadi di musim panas ketika tekanan tinggi berkembang di suatu wilayah. Sistem tekanan tinggi ini bergerak lambat dan dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama di suatu wilayah (berhari-hari hingga berminggu-minggu). Berdasarkan definisi tersebut potensi gelombang panas terjadi di wilayah-wilayah subtropis atau wilayah lintang tinggi dengan fenomena jetstream," kata Emilya kepada Republika, Jumat (28/4/2023).

Sedangkan Indonesia merupakan daerah lintang rendah dengan tekanan udara yang rendah pula, sehingga potensi terjadinya gelombang panas cukup rendah. Ia menjelaskan, cuaca panas yang terjadi akhir-akhir ini disebabkan antara lain posisi matahari berada di lintang utara wilayah Indonesia.

"Periode transisi di mana musim penghujan akan memasuki musim kemarau, pembentukan awan yang cukup intensif sehingga terjadi pelepasan bahang dari proses perubahan uap air (gas) menjadi titik-titik awan (cair), awan yang terbentuk mengambil radiasi matahari yang masuk dan radiasi bumi yang keluar sehingga meningkatkan suhu udara. Selain itu perubahan tutupan lahan menjadi area terbangun yang banyak menyerap panas dan melepaskan panas dalam bentuk panas yang teradakan juga meningkatkan suhu udara," ujar dia.

Emilya mengungkapkan, beberapa hari terakhir, data kecepatan angin di wilayah Indonesia cukup rendah, sehingga menyebabkan panas yang diterima meningkatkan suhu udara di banyak wilayah.

Ia menuturkan berdasarkan data dari bom.gov.au, pada April ini memperlihatkan nilai SOI positif yang berindikasi dengan El Nino walaupun Indeksnya masih kecil, sehingga diprediksi hingga Juni 2023, terjadi peningkatan indeks El Nino.

"Fenomena ini menyebabkan uap air yang ada di perairan Samudra Pasifik Barat akan dibawa ke perairan Samudra Pasifik Timur sehingga pembentukan awan akan berkurang dan potensi hujan menurun dan meningkatkan suhu udara," terangnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement