Jumat 02 Oct 2026 21:17 WIB

UEA-Indonesia Perkuat Kemitraan Peradaban untuk Perdamaian dan Masa Depan

Lima dekade hubungan kedua negara menjadi momentum bangun tahap baru.

Seminar Dari Abu Dhabi ke Jakarta: Kemitraan Peradaban untuk Perdamaian dan Masa Depan” yang diselenggarakan oleh Abu Dhabi Peace Forum dalam rangkaian Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Jakarta, Kamis (1/10/2026)
Foto: Istimewa
Seminar Dari Abu Dhabi ke Jakarta: Kemitraan Peradaban untuk Perdamaian dan Masa Depan” yang diselenggarakan oleh Abu Dhabi Peace Forum dalam rangkaian Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Jakarta, Kamis (1/10/2026)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, 2 Oktober 2026 — Uni Emirat Arab (UEA) dan Indonesia perlu terus memperkuat kemitraan di bidang budaya, pendidikan, pengetahuan, dan kemanusiaan sebagai bagian dari upaya membangun perdamaian serta mempererat hubungan antarmasyarakat kedua negara.

Hal tersebut disampaikan H.E. Abdulla Salem AlDhaheri, Duta Besar UEA untuk Republik Indonesia dan Republik Demokratik Timor Leste, dalam seminar budaya bertajuk “Dari Abu Dhabi ke Jakarta: Kemitraan Peradaban untuk Perdamaian dan Masa Depan” yang diselenggarakan oleh Abu Dhabi Peace Forum dalam rangkaian Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Baca Juga

Seminar tersebut turut dihadiri Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam, Dr. Muchlis M. Hanafi, mantan Menteri Luar Negeri RI Alwi Shihab, mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal, beberapa duta besar negara-negara Timur Tengah, serta perwakilan sejumlah negara sahabat.

Dalam sambutannya, Duta Besar UEA menegaskan bahwa pameran buku bukan sekadar ruang untuk menampilkan buku dan publikasi, tetapi juga menjadi tempat bertemunya gagasan, budaya, dan peradaban. Pengetahuan dan budaya, katanya, dapat menjadi jembatan untuk saling memahami, mendekatkan masyarakat, sekaligus membangun perdamaian di antara bangsa-bangsa.

Momentum tahun 2026 memiliki arti khusus bagi hubungan UEA dan Indonesia karena kedua negara memperingati 50 tahun hubungan diplomatik yang dimulai pada 1976.

Peringatan lima dekade tersebut tidak hanya menjadi kesempatan untuk merayakan berbagai pencapaian bilateral, tetapi juga momentum untuk membangun tahap baru hubungan kedua negara yang lebih luas, khususnya di bidang budaya, pengetahuan, dan kemanusiaan.

“Lima puluh tahun bukan sekadar angka dalam sejarah hubungan diplomatik. Lima puluh tahun merupakan tonggak setengah abad bagi persahabatan, kerja sama, interaksi, sekaligus proses membangun kepercayaan antara dua negara dan dua bangsa,” ujarnya.

 

Berita Terkait
Berita Lainnya

Rekomendasi