Jumat 02 Oct 2026 15:36 WIB

Melek Teknologi Saja tak Cukup, Generasi Muda Harus Bisa Berinovasi

Data dan kolaborasi dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan nyata.

Direktur Garudafood Fransiskus Johny Soegiarto memberikan kuliah umum kepada mahasiswa Universitas Brawijaya di Malang, Jawa Timur, Kamis (1/10/2026).
Foto: Istimewa
Direktur Garudafood Fransiskus Johny Soegiarto memberikan kuliah umum kepada mahasiswa Universitas Brawijaya di Malang, Jawa Timur, Kamis (1/10/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG – Generasi muda dinilai perlu mengembangkan kemampuan digital untuk menyelesaikan persoalan nyata, bukan sekadar menguasai teknologi. Kemampuan membaca data, berkolaborasi, dan mencari solusi menjadi keterampilan yang dibutuhkan seiring semakin luasnya penggunaan teknologi di dunia usaha.

Direktur Garudafood Fransiskus Johny Soegiarto mengatakan, generasi muda memiliki keunggulan karena tumbuh dengan teknologi sejak dini. Namun, kemampuan tersebut perlu diterapkan untuk menjawab persoalan yang ditemui di lingkungan sekitar.  Pesan tersebut disampaikan dalam kuliah umum program Sahabat Inspirasiku bertema “Creativity and Leadership” di Auditorium Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. “Mulailah dari masalah di sekitar, lalu belajar menyelesaikannya dengan data dan kolaborasi,” jelas Fransiskus dalam siaran pers, Jumat (2/10/2026).

Baca Juga

Fransiskus mencontohkan penggunaan teknologi dalam transformasi bisnis Garudafood. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan memanfaatkan data, otomasi, dan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung pengambilan keputusan dan kegiatan operasional.

“Bagi kami, teknologi adalah alat untuk menghadirkan produktivitas, ketangkasan (agility), dan keberlanjutan bisnis,” katanya.

Selama satu dekade terakhir, transformasi tersebut mencakup digitalisasi manufaktur, efisiensi rantai pasok, dan operational excellence. Teknologi yang digunakan antara lain Enterprise Resource Planning (ERP), smart manufacturing, platform penjualan digital, serta sistem keamanan operasi berbasis AI.

Transformasi bisnis juga mencakup penggunaan energi baru terbarukan (EBT). Sepanjang 2025, konsumsi EBT Garudafood meningkat 117 persen, sedangkan porsinya dalam bauran energi naik dari 4,55 persen menjadi 10,24 persen.

Peningkatan tersebut didukung penggunaan biomassa dan panel surya dengan kapasitas terpasang 3,4 megawatt (MW). Intensitas emisi gas rumah kaca juga turun 9,21 persen, terutama setelah konversi steam boiler dari gas ke biomassa serta peremajaan kompresor udara.

Di sisi pengelolaan limbah, sebanyak 99 persen limbah organik sisa produksi dimanfaatkan kembali, terutama sebagai pakan ternak. Tingkat kecelakaan kerja juga turun 44 persen.

Sementara di sisi hulu, Garudafood bermitra dengan lebih dari 460 petani kacang dan 4.400 peternak sapi perah. Kemitraan tersebut menjadi salah satu bagian dari kegiatan perusahaan pada rantai pasok bahan baku.

Berita Lainnya

Rekomendasi