REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk atau GIAA menunjukkan ketahanan bisnis yang solid di tengah tekanan kenaikan harga avtur global. Perseroan berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 16 persen dan menekan rugi bersih secara signifikan pada semester I 2026.
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), maskapai pelat merah ini membukukan pendapatan sebesar 1,80 miliar dolar AS sepanjang Januari-Juni 2026. Angka ini melonjak 16,0 persen dari pendapatan 1,55 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya. Di saat yang sama, rugi bersih perseroan berhasil menyusut 23,2 persen menjadi 113,0 juta dolar AS dari sebelumnya 147,1 juta dolar AS.
Kinerja positif ini dicatatkan di tengah badai kenaikan harga bahan bakar yang menekan industri penerbangan global. Konflik di Timur Tengah yang memanas sejak akhir Februari 2026 telah mengganggu pasokan energi dunia. Data International Air Transport Association (IATA) mencatat harga jet fuel pada puncaknya di April 2026 melonjak sekitar 121 persen dibandingkan April 2025. Sepanjang 2026, IATA memperkirakan harga rata-rata jet fuel mencapai 152 dolar AS per barel, hampir 70 persen lebih tinggi dari rata-rata tahun 2025.
Masa Kritis bagi Maskapai
Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (APJAPI) sekaligus pengamat penerbangan, Alvin Lie, menyebut periode Agustus hingga November 2026 sebagai masa-masa kritis bagi maskapai. "Tekanan datang bersamaan dari harga bahan bakar, pelemahan rupiah, dan periode low season," kata Alvin dikonfirmasi di Jakarta, Kamis. Senada dengan itu, pengamat penerbangan Gerry Soejatman menyebut avtur berkontribusi lebih dari separuh biaya maskapai, sementara 90 persen biaya penerbangan menggunakan mata uang asing sehingga menekan margin akibat kenaikan harga.
Beban avtur Garuda pada semester I 2026 tercatat naik 43,6 persen menjadi 677,6 juta dolar AS. Pada kuartal II, kenaikannya bahkan mencapai 90 persen secara tahunan. Porsi avtur terhadap pendapatan pun membengkak menjadi sekitar 37,7 persen dari 30,5 persen pada periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, Earnings Before Interest and Taxes (EBIT) perseroan justru naik 12,7 persen menjadi 74,0 juta dolar AS, dan Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) tumbuh 5,8 persen menjadi 431,6 juta dolar AS.
Tiga Pilar Penopang Kinerja
Laporan keuangan perseroan mengungkap tiga faktor utama yang menopang kinerja cemerlang ini, sejalan dengan program transformasi yang dijalankan.
Pertama, pertumbuhan pendapatan dari berbagai lini. Pendapatan penerbangan berjadwal naik 10,9 persen menjadi 1,31 miliar dolar AS, dengan pendapatan penumpang tumbuh 11,5 persen menjadi 1,23 miliar dolar AS. Pendapatan penerbangan tidak berjadwal melonjak 32,5 persen menjadi 272,8 juta dolar AS, didorong angkutan haji yang naik 51,6 persen menjadi 232,2 juta dolar AS. Sementara itu, pendapatan dari bisnis perawatan pesawat (MRO) tumbuh 43,8 persen menjadi 87,4 juta dolar AS.
Kedua, pengendalian biaya di luar avtur yang sangat ketat. Saat beban avtur meroket 43,6 persen, biaya non-bahan bakar hanya naik 3,9 persen menjadi sekitar 1,07 miliar dolar AS. Rasio biaya non-avtur terhadap pendapatan berhasil ditekan menjadi 59,7 persen dari 66,7 persen. Artinya, dari setiap 1 dolar AS pendapatan, biaya di luar avtur hanya sekitar 60 sen, turun dari 67 sen. Beban komisi agen pun turun 6,2 persen menjadi 33,6 juta dolar AS meski pendapatan tumbuh dua digit.
Ketiga, penurunan beban keuangan dan utang. Beban keuangan turun 11,6 persen menjadi 222,4 juta dolar AS, dengan beban bunga dari liabilitas sewa, obligasi, dan utang usaha seluruhnya lebih rendah. Total pinjaman, termasuk liabilitas sewa, obligasi, dan pinjaman bank, turun 4,0 persen menjadi 3,76 miliar dolar AS per 30 Juni 2026 dari 3,92 miliar dolar AS pada akhir 2025. Arus kas operasional tercatat positif 253,1 juta dolar AS, dengan kas dan setara kas per akhir Juni 2026 sebesar 624,3 juta dolar AS.
Harapan untuk Kembali Untung
Perbaikan kinerja Garuda sebelumnya telah disinggung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam pidato Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI. Menurut Presiden, Garuda yang sempat hampir dipailitkan dan memiliki puluhan pesawat grounded kini berhasil mengaktifkan kembali armadanya. "Garuda Indonesia yang sudah sekian tahun rugi, sekarang sudah ada harapan untuk kembali untung," ujar Presiden.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN), Dony Oskaria, pada akhir Maret 2026 menyebut tekanan kinerja Garuda sepanjang 2025 merupakan kondisi sebelum intervensi berjalan. Ia memperkirakan dampak positif dari intervensi dan transformasi bisnis akan mulai terlihat pada kuartal I dan II 2026. "Tidak cukup hanya dengan memberikan pendanaan, tetapi juga harus diikuti transformasi bisnis," ucapnya.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.




