Kamis 01 Oct 2026 05:00 WIB

Pemkab Halbar Perkuat Pendampingan 84 Desa Kembangkan Usaha Berbasis Komoditas Lokal

Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat memperkuat pendampingan Program Tekad di 84 desa untuk mendorong pengembangan usaha berbasis potensi lokal dan ekonomi desa berkelanjutan.

Rep: antara/ Red: antara
Pemkab Halbar dampingi 84 desa perkuat usaha berbasis komoditas lokal.
Foto: antara
Pemkab Halbar dampingi 84 desa perkuat usaha berbasis komoditas lokal.

REPUBLIKA.CO.ID, TERNATE, – Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat (Halbar), Maluku Utara, memperkuat pendampingan terhadap pelaksanaan Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (Tekad). Langkah ini diambil untuk mendorong pengembangan usaha berbasis potensi lokal dan menumbuhkan ekonomi desa secara berkelanjutan di 84 desa penerima program.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Halmahera Barat, Fadli Husein, menegaskan bahwa pendampingan menjadi kunci agar usaha yang dirintis tidak berhenti setelah bantuan diberikan. Ia menyampaikan hal tersebut dalam keterangannya di Ternate, Rabu.

"Keberlanjutan program perlu kita siapkan melalui pendampingan, termasuk bagaimana pemerintah desa dapat memanfaatkan anggaran ketahanan pangan untuk mendukung pengembangan usaha yang sudah berjalan," kata Fadli.

Fadli menjelaskan, seluruh desa penerima Program Tekad perlu diarahkan untuk mengembangkan usaha sesuai potensi masing-masing wilayah. Pemerintah daerah bahkan mengusulkan agar desa-desa tersebut dikembangkan menjadi desa tematik berdasarkan komoditas unggulan.

"Setiap desa memiliki potensi yang berbeda, sehingga pengembangannya perlu disesuaikan dengan potensi lokal. Kami juga mendorong agar desa penerima Tekad dapat diarahkan menjadi desa tematik," ujarnya.

Dengan konsep desa tematik, bantuan dan pendampingan diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih terarah. Fadli menambahkan, akses terhadap data Indeks Desa juga penting bagi pemerintah daerah dan desa untuk menyusun program pembangunan yang lebih tepat sasaran serta mendukung keberlanjutan usaha yang telah dibangun melalui Tekad.

Contoh Pengembangan: Briket Batok Kelapa dan Cabai Keriting

Program Tekad Kemendes PDT di Halmahera Barat telah mendorong berbagai inisiatif usaha. Salah satunya adalah pengembangan rumah produksi briket berbahan batok kelapa di Desa Payo. Desa ini menerima bantuan Rp100 juta pada 2026 melalui program demplot untuk membangun fasilitas produksi tersebut.

Rumah produksi itu nantinya akan dilengkapi dengan pelatihan teknis pengolahan briket dan ditargetkan mampu menyerap sekitar 10 tenaga kerja. Fasilitator Ekonomi Program Tekad Kabupaten Halmahera Barat, Yohanis, mengatakan pengolahan batok kelapa menjadi briket dapat meningkatkan nilai tambah komoditas yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Ia menyebut, produksi batok kelapa dari petani di Desa Payo diperkirakan mencapai sekitar 50 ton dalam tiga bulan. "Kalau hasil kelapa batok dari petani bisa diolah di rumah produksi briket, maka nilai ekonominya akan meningkat. Karena itu kolaborasi antara BUMDes dan warga petani harus terbangun dengan baik," ujar Yohanis.

Sementara itu, Desa Pateng fokus mengembangkan komoditas cabai keriting. Desa ini menerima bantuan demplot sebesar Rp100 juta pada 2025 untuk pengembangan cabai keriting di lahan seluas satu hektare. Pada 2026, Desa Pateng kembali menerima bantuan melalui RITD sebesar Rp300 juta untuk pembangunan rumah produksi sambal, serta bantuan IF sebesar Rp250 juta untuk pengadaan alat dan mesin pertanian, pembangunan embung, dan tandon air.

Selain pendampingan usaha, Tim Strategi Policy Unit (SPU) Program TEKAD bersama Direktorat PKEI Kemendes PDT juga melakukan monitoring literasi keuangan desa, pengisian kuesioner reformulasi Indeks Desa, dan survei strategi keluar (exit strategy) Program TEKAD 2026.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara
Berita Terkait
Berita Lainnya

Rekomendasi