REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pameran buku Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 resmi dibuka pada Rabu (30/9/2026). Pameran yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta Pusat hingga Ahad (4/10/2026) menjadi ajang membawa karya dan konten Indonesia ke pasar internasional melalui transaksi hak cipta, penerjemahan, jejaring penerbit, dan kolaborasi lintas negara.
Ketua Panitia IIBF 2026, Wedha Stratesti Yudha, mengatakan kegiatan yang digelar atas kerja sama Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dan Kementerian Kebudayaan tidak sekadar menjadi ajang pameran buku. Lebih dari itu, IIBF digelar untuk mengembangkan industri penerbitan agar mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus menembus pasar global.
"Melalui IIBF, IKAPI dan Kementerian Kebudayaan telah sepakat untuk mempromosikan internasionalisasi karya dan konten Indonesia melalui transaksi hak cipta, penerjemahan, jejaring, dan kolaborasi lintas batas," kata Wedha saat pembukaan IIBF 2026 di JICC, Rabu.
Menurut Wedha, penguatan tersebut terlihat dari penyelenggaraan Indonesia Rights Fair tahun ini. Program itu diikuti sekitar 125 peserta yang mewakili 93 penerbit dan agensi dari 18 negara. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya.
Dia menjelaskan, IIBF tahun ini juga menjadi penyelenggaraan terbesar sepanjang sejarah pameran tersebut. Selain pameran buku, IIBF menghadirkan Children's Book Fest, Story Market, Book-to-Screen Workshop, diskusi, author meet and greet, IKAPI Awards, serta program yang melibatkan komunitas dan industri kreatif. "Ini adalah tempat berkumpulnya para penulis, ilustrator, dan pakar pendidikan anak," ujar Wedha.
Tak hanya itu, sambung dia, IIBF juga kembali menghadirkan LeadConnect yang membahas berbagai isu strategis dan tren industri penerbitan. Topiknya mencakup kecerdasan buatan, teknologi digital, pembajakan buku, adaptasi transmedia, tantangan distribusi, promosi, hingga model bisnis baru.
Wedha mengatakan, berbagai program tersebut berangkat dari keyakinan bahwa buku bukan sekadar konten, melainkan sumber gagasan yang dapat berkembang. Baik menjadi film, pertunjukan, lagu, maupun berbagai bentuk inovasi lainnya.
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengatakan, pengembangan IIBF sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat ekosistem literasi sekaligus mengembangkan ekonomi budaya dan industri kreatif. Karena itu, pihaknya memberikan dukungan penuh atas penyelenggaraan IIBF 2026.
"Kita menyambut baik penyelenggaraan IIBF 2026 ini yang diposisikan sebagai festival buku sekaligus hub dari industri kreatif berbasis konten," kata Fadli saat membuka IIBF 2026.
Menurut dia, IIBF diarahkan pada tiga fungsi, yakni literasi publik dan keterlibatan pembaca, pengembangan industri penerbitan dan profesional, serta kolaborasi hak cipta, kekayaan intelektual, dan industri kreatif. Dalam kesempatan tersebut, Fadli juga mendorong penulis dan penerbit memperbanyak karya tentang Indonesia.
Pasalnya, ia menilai, banyak perjalanan peradaban Nusantara yang belum dituangkan dalam karya dan diperkenalkan kepada masyarakat dunia. "Masih terlalu banyak yang belum ditulis tentang perjalanan peradaban di Nusantara ini. Masih terlalu banyak yang belum ditulis. Apalagi dibaca," kata Fadli.




