Rabu 30 Sep 2026 08:54 WIB

20 Pendidik Raih Penghargaan Berkat Inovasi Pembelajaran

Inovasi guru menghubungkan pembelajaran dengan persoalan kehidupan nyata.

Rep: Bayu Adji Prihammanda/ Red: Satria K Yudha
Executive Director Mentari Group Natalina Rimba, Kapokja Dikdasmen BAN PDM 2023–2026 Andri Nurcahyani, bersama Mentari National Awards for Educators (MNAE) 2026, usai konferensi pers MNAE 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
Foto: Dok Republika
Executive Director Mentari Group Natalina Rimba, Kapokja Dikdasmen BAN PDM 2023–2026 Andri Nurcahyani, bersama Mentari National Awards for Educators (MNAE) 2026, usai konferensi pers MNAE 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sebanyak 20 pendidik dari berbagai daerah meraih penghargaan Mentari National Awards for Educators (MNAE) 2026 atas inovasi pembelajaran yang dikembangkan di sekolah masing-masing. Inovasi tersebut mencakup pembelajaran berbasis proyek, pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI), hingga program literasi yang menghubungkan karya siswa dengan kegiatan lingkungan.

Penghargaan yang digelar Mentari Group tersebut diikuti 770 pendaftar dari 228 kota/kabupaten dan 679 sekolah. Sebanyak 20 pendidik terpilih sebagai penerima penghargaan dalam tiga kategori, yakni 10 penerima Mentari Changemaker Awards, lima Mentari Leadership Awards, dan lima Mentari Educator Awards.

Baca Juga

Salah satu inovasi dikembangkan Mahendra Surya dari SMP Nation Star Academy Surabaya melalui pembelajaran IPA berbasis proyek (project-based learning). Siswa diajak mempelajari pencemaran plastik sekaligus membuat prototipe bioplastik dari material yang dapat terurai secara hayati.

Dalam proyek tersebut, siswa mempelajari dampak pencemaran dan karakteristik material. Mereka juga mengevaluasi tekstur, fleksibilitas, daya tahan, serta potensi bioplastik untuk terurai.

“Sebagai guru IPA, saya percaya bahwa pembelajaran sains seharusnya tidak hanya berfokus pada menghafal konsep. Siswa perlu mengalami pembelajaran sains secara bermakna dan menerapkan pengetahuan ilmiah untuk menyelesaikan permasalahan di dunia nyata,” ujar Mahendra.

Inovasi lainnya dikembangkan Desi Susanti dari SMA Negeri 1 Sendawar, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Melalui program Detektif Sains, Desi mengubah pembelajaran fisika menjadi kegiatan penyelidikan dengan memanfaatkan Soundcard Oscilloscope dan chatbot AI.

Penerapan metode tersebut dilaporkan menghasilkan tingkat ketuntasan materi hingga 100 persen. Desi juga membagikan praktik pembelajarannya melalui lebih dari 76 video di kanal YouTube @ibudesifisika serta berbagai pelatihan dan komunitas guru.

“Praktik baik seharusnya tidak berhenti di satu ruang kelas. Karena itu, saya mencoba membagikan pengalaman tersebut melalui platform digital, pelatihan, dan komunitas guru agar dapat dipelajari dan dikembangkan oleh pendidik lain,” ujar Desi.

Sementara itu, Meildy Louisa Kese dari Sekolah Lentera Harapan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, mengembangkan Gerakan Sekolah Menulis Buku (GSMB). Program yang berkembang menjadi kegiatan tahunan tersebut melibatkan siswa dalam penulisan buku, festival literasi, lomba desain sampul, hingga pameran karya.

Hasil penjualan buku karya siswa juga digunakan untuk mendukung kegiatan lingkungan, termasuk penanaman lebih dari 200 anakan bambu.

“Literasi tidak hanya tentang kemampuan menulis, tetapi bagaimana siswa mampu menggunakan gagasannya untuk melakukan sesuatu yang berdampak. Karena itu, program kami terus dikembangkan agar karya dan kemampuan literasi siswa dapat terhubung dengan aksi nyata,” kata Meildy.

Kepala Kelompok Kerja Pendidikan Dasar dan Menengah Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah (BAN-PDM) periode 2023–2026, Andri Nurcahyani, menilai praktik pembelajaran yang dikembangkan pendidik perlu dibagikan agar dapat menjadi referensi bagi sekolah lain.

“Praktik-praktik tersebut penting untuk dikenali dan diapresiasi karena menunjukkan upaya nyata pendidik dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengelolaan sekolah,” kata Andri.

Executive Director Mentari Group Natalina Rimba berharap para penerima penghargaan dapat terus mengembangkan inovasi dan membagikan pengalaman mereka kepada pendidik lain.

“Semoga penghargaan ini menjadi apresiasi atas kontribusi Bapak dan Ibu dalam memajukan pendidikan Indonesia, sekaligus mendorong untuk terus mengembangkan dan membagikan inovasi yang telah dilakukan agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi pendidikan,” kata Natalina dalam keterangannya, Selasa (29/9/2026).

MNAE 2026 juga dikaitkan dengan dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) keempat mengenai pendidikan berkualitas, terutama melalui pengembangan praktik pembelajaran dan penguatan peran pendidik.

Berita Lainnya

Rekomendasi