REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI — Kesuksesan finansial dan karier yang mentereng di dunia korporat ternyata tidak selamanya menjamin kebahagiaan batin seseorang. Realitas ini dialami langsung oleh Rani Sri Latifah, seorang entrepreneur pemilik Kaniemoji Bakery sekaligus alumnus Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Cengkareng jurusan Akuntansi lulusan tahun 2014. Perjalanannya dari seorang perantau hingga menjadi pengusaha tangguh penuh dengan liku-liku ambisi, pencapaian target miliaran rupiah, hingga pergulatan dengan kesehatan mentalnya.
Kisah Rani di ibu kota dimulai dari titik nol sebagai seorang perantau. Sebelum bisa duduk di bangku kuliah, ia harus menunda pendidikannya selama satu tahun untuk bekerja di sebuah warteg.
Di sana, ia memulai semuanya dari bawah, mulai dari bertugas sebagai tukang belanja hingga akhirnya dipercaya menjadi kasir. Setelah memiliki cukup uang, Rani akhirnya mendaftar kuliah di UBSI sambil tetap konsisten bekerja di warteg yang beroperasi 24 jam tersebut.
Masa-masa awal perkuliahannya sangatlah menantang. Mulai dari semester pertama hingga semester keempat, Rani dikenal oleh teman-teman dan dosen di UBSI kampus Cengkareng dengan julukan "nasi keliling".
Julukan ini melekat karena ia selalu membawa dan berjualan nasi bungkus saat berangkat ke kampus untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa karena ketiadaan kantin saat itu. Melihat potensi jualan dan branding yang kuat dari Rani, bos wartegnya kemudian mengajaknya mendirikan PT Permata Jaya Elektronik, sebuah usaha kredit elektronik dengan cicilan harian yang menyasar para pedagang pasar. Rani menjalani profesi sales di PT tersebut selama kurang lebih empat tahun hingga ia lulus kuliah.
Setelah lulus, Rani mengejar impian utamanya untuk bekerja di bank, profesi yang menurutnya saat itu terlihat sangat nyaman dan rapi. Ia memulai karier profesionalnya sebagai sales kartu kredit outsourcing di Citibank tanpa mendapatkan gaji pokok.
Berkat kegigihannya yang ia sebut "gila", ia mampu mencapai target penjualan hingga 300% hanya dalam waktu tiga bulan dan langsung diangkat menjadi karyawan in-house. Kesuksesannya berlanjut hingga mampu meraup komisi sebesar 48 juta rupiah hanya dalam kurun waktu dua bulan pada awal tahun 2014.
Karier Rani semakin tak terbendung saat ia berpindah ke HSBC untuk menjual produk perbankan segmen korporat, dan kemudian ke UOB untuk menangani segmen Business to Government (B2G). Kemampuannya menjaga relasi dengan nasabah-nasabah lama membuahkan hasil manis ketika salah satu pelanggannya, seorang CEO dari Integra Group, menawarinya posisi General Manager (GM) di sebuah start-up furnitur perkantoran.
Meskipun sempat dihantam pandemi COVID-19, Rani kemudian ditarik ke sister company bernama Kana Furniture untuk menangani proyek-proyek bernilai fantastis. Dari yang awalnya memiliki target 800 juta rupiah sebulan, ia sanggup memegang target hingga 30 Miliar rupiah per tahun, dan sukses tembus proyek senilai 28 Miliar rupiah di bulan-bulan pertamanya, termasuk proyek dari Kementerian Luar Negeri dan BCA.




