Selasa 29 Sep 2026 13:04 WIB

Influenza Melonjak, Menkes Sebut Pemakaian Oseltamivir tidak untuk Semua Pasien

Kemenkes mencatat ada peningkatan influenza di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Mas Alamil Huda
Warga menunggu antrean sebelum menjalani pemeriksaan kesehatan di Puskesmas Ibrahim Adjie, Bandung, Jawa Barat, Senin (28/9/2026). Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat mencatat hingga Jumat 25 September 2026 terdapat 65 kasus positif influenza tipe A di Kota Bandung serta pihaknya menghimbau agar masyarakat diminta untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat agar terhindar dari penularan.
Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Warga menunggu antrean sebelum menjalani pemeriksaan kesehatan di Puskesmas Ibrahim Adjie, Bandung, Jawa Barat, Senin (28/9/2026). Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat mencatat hingga Jumat 25 September 2026 terdapat 65 kasus positif influenza tipe A di Kota Bandung serta pihaknya menghimbau agar masyarakat diminta untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat agar terhindar dari penularan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyatakan, sebagian besar kasus influenza dapat pulih dengan perawatan suportif dan tidak memerlukan rawat inap. Ini menyusul kabar lonjakan kasus influenza di Indonesia.

Hal itu disampaikan Budi merespons penggunaan obat antivirus seperti oseltamivir. Obat itu,lanjut Budi, tidak ditujukan untuk semua pasien influenza.

Baca Juga

“Oseltamivir penggunaannya harus tepat. Berdasarkan masukan para ahli, obat ini sebaiknya digunakan secara terbatas pada pasien dengan kondisi berat atau pasien dengan komorbid yang memang membutuhkan antivirus,” kata Budi dalam keterangannya pada Selasa (29/9/2026).

Budi menjelaskan, pembatasan penggunaan oseltamivir diperlukan untuk mencegah terjadinya resistansi terhadap obat antivirus. Budi mengibaratkan hal tersebut dengan penggunaan antibiotik yang tidak tepat yang dapat mendorong terjadinya resistansi antimikroba.

“Kita tidak boleh menggunakan antivirus secara berlebihan karena ada risiko resistansi. Kalau resistansi terjadi, justru kita bisa kehilangan pilihan obat ketika menghadapi wabah yang lebih berat dan mengancam nyawa, seperti influenza H5Nx,” ujar Menkes.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi