Senin 28 Sep 2026 19:17 WIB

Menolak Menyerah pada Keadaan, Lika-Liku Hanafi Dirgantara Sampai Masuk Dunia IT

Kisah Hanafi menjadi representasi nyata dari resiliensi dan tidak gengsi.

Hanafi Dirgantara, alumnus Program Studi (Prodi) Sistem Informasi dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Karawang
Foto: dok UBSI
Hanafi Dirgantara, alumnus Program Studi (Prodi) Sistem Informasi dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Karawang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jalan menuju kesuksesan karier jarang sekali berupa garis lurus yang mulus. Pepatah ini tergambar jelas dalam rekam jejak Hanafi Dirgantara, alumnus Program Studi (Prodi) Sistem Informasi dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Karawang lulusan 2020. Sebelum akhirnya duduk sebagai IT Helpdesk di PT Lawang Sewu Teknologi yang berlokasi di kawasan elit Kuningan, Jakarta Selatan, Hanafi harus melewati berbagai fase kehidupan yang menguji daya juangnya.

Kisah Hanafi menjadi representasi nyata dari resiliensi, kemampuan untuk terus bangkit, beradaptasi, dan tidak gengsi memulai segala sesuatunya dari bawah demi mengejar ketertinggalan dan meraih impian di industri teknologi.

Baca Juga

Akan sangat sayang jika ceritanya ini, hanya jadi semangat untuk dirinya sendiri. Melalui kegiatan Seminar Motivasi (SEMOT) UBSI, Hanafi diundang untuk memberikan motivasinya kepada mahasiswa baru UBSI 2026. Kegiatan SEMOT sendiri merupakan rangkaian kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UBSI, yang berlangsung di BSI Convention Center (BSI Convex), Kaliabang, Bekasi, pada Ahad (20/9).

Membangun Fondasi Lewat Organisasi dan Inovasi

Jauh sebelum terjun ke dunia profesional, masa-masa kuliah Hanafi di UBSI kampus Karawang sangat produktif, dihabiskan dengan banyak kegiatan. Ia tidak hanya sekadar datang ke kelas untuk mendengarkan dosen, tetapi memilih terjun aktif dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Baginya, organisasi adalah laboratorium kehidupan.

"Di situ saya banyak belajar bahwa kegiatan kampus tidak hanya mengajarkan kita untuk bersosialisasi, tapi juga cara berpikir. Kita dituntut untuk tidak hanya kuliah dan belajar, tapi mencari relasi dan menjadikan organisasi sebagai wadah untuk berkembang lebih baik di masa depan," ungkap Hanafi.

Keberaniannya berinovasi juga teruji saat dia dan tiga rekan kelompoknya mewakili program kampus dalam perlombaan pembuatan aplikasi layanan digital. Pada periode 2018-2019, ketika digitalisasi pusat layanan kesehatan belum semasif sekarang, timnya berhasil merancang aplikasi digital untuk Puskesmas. Momen tersebut menjadi salah satu pencapaian paling berkesan karena mereka berhasil melihat jauh ke depan mengenai pentingnya teknologi di sektor pelayanan publik.

Lika-Liku Karier: Berani Banting Setir ke Dunia IT

Lulus di tahun 2020 yang penuh ketidakpastian karena COVID tidak lantas membuat Hanafi langsung duduk di kursi perkantoran maupun industri korporat. Ia justru mengawali perjalanan pasca-kampusnya di sektor informal sebagai pekerja di kedai roti bakar.

Meski hanya bertahan selama tiga bulan, fase ini menjadi batu loncatan mental yang kuat. Tawaran selanjutnya datang dari raksasa industri pangan, PT Mayora. Bekerja sebagai Operator Produksi, Hanafi dituntut beradaptasi dengan ritme pabrik dan standar operasional yang ketat.

"Di PT Mayora saya belajar banyak hal. Sebagai Operator Produksi, saya menyadari bahwa kehigienisan adalah hal krusial dalam industri pangan," tuturnya.

Namun, panggilan jiwanya di dunia teknologi tidak pernah padam. Dedikasi dan kegigihannya membuahkan hasil ketika berhasil melakukan transisi karier dan diterima bekerja sebagai IT Helpdesk di PT Lawang Sewu Teknologi.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi