REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Program Hibah Inovasi Pembelajaran Digital (IPD) 2026 Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) tidak hanya mendorong pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, tetapi juga memperkuat penerapan Project-Based Learning (PjBL) yang berorientasi pada capaian pembelajaran dan persoalan nyata. Pendekatan tersebut menempatkan mahasiswa bukan sekadar sebagai penerima materi, tetapi sebagai bagian aktif dalam proses menemukan, mengembangkan, dan menyelesaikan persoalan.
Hal tersebut disampaikan Dekan Fakultas Teknik dan Informatika (FTI) UBSI, Rachmat Adi Purnama saat memberikan materi pada sesi kedua kegiatan Diseminasi Hasil Transformasi Pembelajaran Digital Berbasis Case Method dan Project-Based Learning pada Mata Kuliah Jaringan Komputer di Asyana Hotel Pemuda, Jakarta pada Rabu (16/9).
Menurut Rachmat, pembelajaran perlu dirancang berdasarkan capaian yang harus dimiliki mahasiswa, bukan sekadar mengejar selesainya seluruh materi perkuliahan. Karena itu, penerapan PjBL perlu membawa mahasiswa melalui proses belajar yang membuat mereka mampu memahami, menjelaskan, menganalisis, hingga menghasilkan solusi.
“Konsep PjBL mengubah kelas menjadi ruang kerja akademik,” kata Rachmat dalam keterangan rilis yang diterima pada Rabu (16/9).
Dalam konsep tersebut, proyek menjadi bagian dari pengalaman belajar mahasiswa. Prosesnya tidak berhenti pada pemberian tugas, tetapi dimulai dari persoalan yang perlu dipahami dan dipecahkan.
Rachmat menjelaskan, mahasiswa dapat belajar melalui proyek yang berangkat dari persoalan nyata, sementara dosen berperan sebagai perancang pengalaman belajar sekaligus fasilitator. Dengan pola ini, interaksi pembelajaran tidak hanya berlangsung ketika dosen menyampaikan materi, tetapi juga ketika mahasiswa melakukan investigasi, berdiskusi, berkolaborasi, dan mengembangkan solusi.
Video Pembelajaran Menjadi Bagian dari Ekosistem PjBL
Rachmat juga mengaitkan penerapan pendekatan tersebut dengan pelaksanaan Hibah IPD 2026 di UBSI. Salah satu inovasi yang dikembangkan melalui program tersebut adalah video pembelajaran yang dirancang untuk membantu mahasiswa memahami materi sebelum mengikuti proses evaluasi dan diskusi.
“Makanya Prodi dalam hal ini, mereka mendapatkan hibah IPD. Salah satunya yaitu membuat video pembelajaran,” ujarnya.
Menurutnya, pemanfaatan video memberikan ruang belajar yang lebih fleksibel bagi mahasiswa. Materi dapat dipelajari terlebih dahulu melalui video, kemudian pemahaman mahasiswa diperkuat melalui evaluasi, tugas, diskusi, maupun aktivitas pembelajaran lainnya.
Dengan demikian, teknologi tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir dari inovasi pembelajaran. Video dan perangkat digital menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran yang mendukung mahasiswa dalam mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.




