REPUBLIKA.CO.ID, Tubuh Zainudin (34 tahun) sudah dipenuhi peluh. Setelah berlari menempuh jarak lebih dari 150 kilometer dari Cemoro Sewu, Magetan, Jawa Timur, Zainudin akhirnya tiba di depan gerbang Kantor Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Kota Semarang pada Kamis (24/9/2026) siang sekitar pukul 14:30 WIB.
Perjalanan selama tiga hari melawan terik dan medan perbukitan yang menantang dilakoni Zainudin sebagai bentuk solidaritas atas aspirasi dan gerakan warga untuk menolak proyek geotermal, tidak hanya di kawasan Gunung Lawu, tapi juga Jateng. Dia mengetahui bahwa saat ini masyarakat juga tengah menolak proyek geotermal di Gunung Ungaran yang berlokasi di Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal.
“Saya ikut aksi ini untuk menolak proyek geotermal yang ada di Jenawi (sekitar kawasan Gunung Lawu), termasuk seluruh Jawa Tengah,” ujar Zainudin ketika diwawancara sesaat setelah tiba di gerbang Kantor Gubernur Jateng.
Menurut lelaki asal Kabupaten Sukoharjo yang sehari-hari bekerja sebagai pemandu gunung tersebut, proyek geotermal memberikan dampak yang merusak lingkungan. “Kalau mau tahu (dampaknya), bisa ke Dieng,” katanya menyinggung keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Dieng di Wonosobo, Jateng.
Selain sebagai pemandu gunung, Zainudin juga aktif sebagai atlet lari. Pada 2022, dia pernah belari sejauh 600 kilometer dari Cemowo Sewi hingga Monumen Nasional (Monas) untuk menggalang dana bagi penderita kanker. Tahun ini, Zainudin menempuh rute lebih pendek, yakni Cemoro Sewu ke Kota Semarang, guna menyuarakan penolakan proyek geotermal.
Zainudin bertolak dari Cemoro Sewu pada Selasa (22/9/2026), sekitar pukul 09.00 WIB. Selain Zainudin, terdapat 12 orang lainnya yang ikut berlari. “Tapi yang full (berlari dari Cemoro Sewu hingga ke Kota Semarang) itu hanya tiga orang. Sementara yang lainnya itu estafet,” ucapnya.
Zainduin dan pelari lainnya melakukan lari dari pagi hingga petang. Salah satu tantangan yang dihadapinya adalah cuaca panas. “Cuaca benar-benar panas, enggak ada angin, enggak ada awan. Biasanya saya kalau ikut race atau untuk charity, 50 atau 100 kilometer, itu larinya malam. Kalau siang hari baru kali ini,” katanya.
Selain itu, trek dari Cemoro Sewu menuju Kota Semarang juga terbilang menantang karena melintasi medan perbukitan yang menurun dan menanjak. Selama perjalanan, Zainudin beristirahat di Solo, Boyolali, dan Ungaran. Guna menjaga kondisi fisiknya tak menurun, Zainudin juga memutuskan tidak mandi selama proses lari.
Zainudin mengaku menerima banyak dukungan warga selama berlari dari Cemoro Sewu menuju Kota Semarang dalam rangka menolak proyek geotermal. “Yang disampaikan masyarakat itu seperti, ‘Ayo, Mas, semangat’ dan ‘Semoga pesannya (penolakan geotermal) didengarkan Pak Gubernur ya’,” kata dia.
Setelah berlari sekitar 156 kilometer selama tiga hari, Zainudin tiba di lintasan terakhir, yakni Jalan Pahlawan, Kota Semarang. Kedatangannya kemudian disambut massa Jateng Guyub yang sudah terlebih dulu berkumpul dan menggelar unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Jateng. Selain isu kedaulatan pangan, dalam aksinya massa Jateng Guyub turut menyuarakan penolakan proyek geotermal di Gunung Ungaran, Telomoyo, dan Lawu.
“Saya melakukan aksi ini untuk menolak proyek geotermal, baik yang ada di Gunung Lawu, di Jawa Tengah, maupun Nusantara. Semoga aksi ini didengar seluruh pemangku kepentingan,” kata Zainudin.
Saat tiba di depan Kantor Gubernur Jateng, Lilik Yuliantoro (37 tahun) termasuk dalam rombongan Zainudin. Ketika tiba di Jalan Pahlawan, Lilik, yang mengenakan topi caping dan kostum terbuat dari karung goni, berjalan mundur hingga ke depan Kantor Gubernur Jateng.
Berbeda dengan Zainudin, Lilik melakukan aksi jalan kaki dari kawasan Candi Gedong Songo di Kabupaten Semarang hingga ke Kantor Gubernur Jateng yang berjarak sekitar 40 kilometer. Tujuan dari aksi tersebut adalah menyuarakan penolakan atas rencana proyek geotermal di Gunung Ungaran.
Lilik, yang merupakan warga Blora, menginginkan agar rencana proyek tersebut tidak dilanjutkan. Kerusakan lingkungan menjadi kekhawatiran utamanya. “Pemerintah harus memikirkan bagaimana pentingnya alam, jangan hanya bisnis dan lain sebagainya,” ujarnya.
Menurutnya, kelestarian alam perlu dijaga dan dipelihara. “Kalau tidak, kasihan anak cucu kita nanti,” kata Lilik.
Dia menuntut Gubernur Jateng Ahmad Luthfi berani bertindak tegas dan mendesak agar rencana proyek geotermal dibatalkan. “Gubernur harus mengembalikan SK Kementerian ESDM kepada Bahlil. Harus tegas, jangan hanya melempar batu sana-sini,” ucapnya.
“Jawa Tengah bukan milik kelompok politik, bukan milik kelompok manusia, tapi Jawa Tengah milik kita semua,” tambah Lilik.
Perwakilan massa Jateng Guyub sempat melakukan audiensi. Mereka diterima Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Masyarakat Sekretariat Daerah Provinsi Jateng Iwanuddin Iskandar. Iwanuddin mengungkapkan, dalam audiensi, kelompok Jateng Guyub menyampaikan beberapa hal, salah satunya terkait proyek geotermal.
Iwanuddin mengatakan, proyek geotermal, termasuk yang tengah direncanakan di Gunung Ungaran, merupakan kewenangan pemerintah pusat. “Masalah kebijakan pusat yang ada di (Gunung) Lawu dan Ungaran, nanti kita kaji bersama-sama,” ujarnya.
Namun dia menyampaikan bahwa Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menghendaki agar semua kegiatan yang berlangsung di Jateng, harus memiliki landasan hukum dan sesuao prosedur. “Selain itu menghindari benturan sekecil apapun dengan masyarakat,” kata Iwanuddin.
Dia memastikan, aspirasi masyarakat yang terhabung dalam kelompok Jateng Guyub, terutama terkait proyek geotermal, akan disampaikan ke pemerintah pusat. “DPRD (Jateng) juga sudah ketemu dengan Pak Dirjen di Kementerian ESDM. Intinya adalah akan ada pelibatan masyarakat” ucapnya.




