Jumat 25 Sep 2026 04:54 WIB

Wamendikdasmen Dorong Siswa Papua Siapkan Diri Jadi Pemimpin

Pendidikan membuka jalan anak Papua memimpin masa depan Indonesia bersama.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq saat menyampaikan sambutannya dalam acara peletakan batu pertama revitalisasi Satuan Pendidikan TK Aisyiyah Pembina Banguntapan, Yogyakarta, Jumat (24/7/2026).
Foto: Republika/ Wulan Intandari
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq saat menyampaikan sambutannya dalam acara peletakan batu pertama revitalisasi Satuan Pendidikan TK Aisyiyah Pembina Banguntapan, Yogyakarta, Jumat (24/7/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq mendorong siswa asal Papua untuk membangun kepercayaan diri, mengembangkan potensi, dan mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan. Pesan itu disampaikan Fajar saat mengunjungi Sekolah Anak Indonesia (SAI) di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis.

Dalam dialog bersama para siswa, Fajar menekankan pendidikan tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademik. Menurut dia, sekolah juga harus menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenali kemampuan diri, belajar mandiri, dan menumbuhkan keberanian mengambil peran dalam masyarakat.

Baca Juga

“Ini adalah masa depan pemimpin Papua dan masa depan Indonesia. Siap memimpin Indonesia?” kata Fajar kepada para siswa.

Ia mengatakan kesempatan menjadi pemimpin terbuka bagi setiap anak tanpa membedakan latar belakang suku maupun daerah asal. Pendidikan, kata dia, harus memberikan ruang yang sama bagi anak-anak untuk tumbuh dan mengembangkan kapasitasnya.

Menurut Fajar, pendidikan juga memiliki peran penting dalam menanamkan nilai kemanusiaan, persatuan, serta sikap saling menghargai di tengah keberagaman Indonesia.

“Pendidikan dan agama mengajarkan kita untuk saling mengasihi dan menghargai. Apa pun agama dan suku kita, kita adalah Indonesia. Papua adalah Indonesia. Siapa pun, dari mana pun asalnya, boleh menjadi pemimpin Indonesia,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi para siswa SAI yang berasal dari sejumlah daerah di Papua dan menjalani pendidikan jauh dari kampung halaman. Kehidupan berasrama memberikan pengalaman baru bagi mereka untuk belajar hidup mandiri sekaligus berinteraksi dengan lingkungan yang lebih beragam.

Dalam dialog tersebut, para siswa menceritakan pengalaman belajar hingga cita-cita yang ingin mereka capai. Seorang siswi asal Nabire mengaku semakin mandiri dan lebih fokus belajar sejak tinggal di asrama.

Ia mengatakan pengalaman hidup jauh dari keluarga membuatnya belajar mengatur waktu dan bertanggung jawab terhadap kebutuhan sehari-hari. Siswi tersebut bercita-cita menjadi pramugari.

Sementara itu, seorang siswi asal Intan Jaya menyampaikan keinginannya menjadi dokter. Cita-cita itu muncul karena ia melihat daerah asalnya masih membutuhkan lebih banyak tenaga kesehatan.

Cerita para siswa menunjukkan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan keberhasilan individu. Cita-cita yang mereka sampaikan juga berkaitan dengan kebutuhan masyarakat di daerah asal, mulai dari pelayanan kesehatan hingga pengembangan sumber daya manusia.

Siswa asal Intan Jaya bernama Estus kemudian menanyakan bagaimana pendidikan dapat mengembangkan bakat siswa tanpa membatasi kebebasan mereka dalam belajar.

Fajar menjelaskan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mendorong proses pembelajaran yang interaktif dan menggembirakan. Pembelajaran juga diharapkan memberi ruang kepada siswa untuk berpikir kritis, bertanya, berdialog, dan menemukan minatnya.

“Kami mendorong pendidikan yang membebaskan, yang memberikan ruang bagi anak untuk bertanya, berdialog, serta mengembangkan minat dan bakatnya. Saya melihat pendekatan tersebut sudah dipraktikkan di sekolah ini,” kata Fajar.

Menurut dia, pendidikan yang memberikan ruang eksplorasi dapat membantu siswa menemukan kekuatan masing-masing. Karena itu, sekolah tidak seharusnya hanya mengukur perkembangan anak melalui capaian akademik, tetapi juga melalui kreativitas, keberanian, kemandirian, dan kemampuan berinteraksi.

Fajar mengapresiasi metode pembelajaran di SAI yang menghubungkan pendidikan dengan budaya dan kehidupan sehari-hari siswa. Pendekatan tersebut dinilai dapat membuat proses belajar terasa lebih dekat dengan pengalaman anak.

Metode pembelajaran di sekolah itu antara lain menggunakan busur panah sebagai media dalam pembelajaran matematika. Seni ukir Asmat juga dimanfaatkan untuk mengembangkan kreativitas sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya kepada siswa.

Pendekatan berbasis budaya tersebut menjadi penting karena anak tidak harus meninggalkan identitas asalnya ketika memperoleh pendidikan di luar daerah. Pengetahuan modern dapat dipelajari bersamaan dengan penguatan hubungan siswa terhadap budaya dan lingkungan tempat mereka berasal.

“Inilah pendidikan yang memanusiakan manusia, terkoneksi dengan alam, mengembangkan bakat, dan memperkuat kemandirian anak,” ujar Fajar.

SAI merupakan sekolah berasrama bagi anak-anak Papua yang dikelola Yayasan Alirena. Sekolah tersebut mengembangkan pendekatan pendidikan yang berbasis pada potensi anak, kebudayaan, serta hubungan dengan alam.

Model pendidikan berasrama juga memberikan ruang pembentukan karakter di luar jam pelajaran formal. Anak-anak belajar hidup bersama, membangun disiplin, menyelesaikan persoalan sehari-hari, serta mengembangkan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan.

Bagi siswa yang berasal dari wilayah dengan akses pendidikan terbatas, pengalaman tersebut dapat memperluas wawasan mereka mengenai kemungkinan pendidikan dan profesi di masa depan. Namun, Fajar menekankan pengalaman belajar itu pada akhirnya diharapkan kembali memberi manfaat kepada masyarakat tempat mereka berasal.

Ia berharap para siswa tidak kehilangan hubungan dengan Papua ketika kelak melanjutkan pendidikan atau memasuki dunia kerja. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama belajar diharapkan menjadi modal untuk ikut menjawab persoalan di daerah masing-masing.

sumber : Antara
Berita Lainnya

Rekomendasi