Rabu 23 Sep 2026 19:12 WIB

Analisis Pakar Soal Banjir Bandang Solok, Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab

Daerah hulu Solok memiliki topografi perbukitan–pegunungan dengan lereng curam.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Andri Saubani
Warga berada di antara material banjir bandang di Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Selasa (22/9/2026). Banjir bandang yang menerjang kawasan perkantoran di pusat kabupaten pada Senin (21/9) malam itu juga memutus akses jalan nasional dan menyebabkan sejumlah korban hilang.
Foto: ANTARA FOTO/Fitra Yogi
Warga berada di antara material banjir bandang di Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Selasa (22/9/2026). Banjir bandang yang menerjang kawasan perkantoran di pusat kabupaten pada Senin (21/9) malam itu juga memutus akses jalan nasional dan menyebabkan sejumlah korban hilang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono menganalisis penyebab banjir bandang yang menghantam Solok, Sumatera Barat. Daryono menyatakan hujan bukan semata-mata penyebab datangnya banjir bandang.

Daryono menyebut curah hujan 94 mm/hari adalah pemicu banjir bandang. Tetapi untuk menyimpulkan mengapa alirannya berkembang menjadi banjir bandang yang membawa begitu banyak material, menurutnya perlu dianalisis kondisi hulu mencakup kemiringan lereng, kejenuhan tanah, longsoran, sedimentasi/material lepas di alur sungai, tutupan lahan, serta konsentrasi limpasan.

Baca Juga

"Jadi tidak tepat langsung menyimpulkan bahwa hujan adalah satu-satunya penyebab. Intinya Galodo (banjir bandang) Solok menunjukkan paradoks yang sebenarnya lazim dalam meteorologi: suatu bulan dapat lebih kering dari normal, tetapi dalam satu hari tetap dapat terjadi hujan lebat 94 mm yang memicu bencana," kata Daryono pada Rabu (23/9/2026).

Daryono merinci hujan lebat dengan akumulasi sekitar 94 mm/hari membuat suplai air ke Daerah Aliran Sungai (DAS) meningkat cepat. Hujan yang berlangsung beberapa jam menyebabkan infiltrasi sekaligus limpasan permukaan meningkat.

"Ketika kemampuan tanah menyerap air terlampaui, air langsung terkonsentrasi menuju alur sungai," ujar Daryono.

Daryono juga menjelaskan daerah hulu Solok memiliki topografi perbukitan–pegunungan dengan lereng relatif curam. Lereng curam ini mempercepat aliran permukaan dan memberikan energi gravitasi besar sehingga air mampu mengerosi serta mengangkut tanah, batu, dan kayu menuju sungai.

"Hujan yang terus berlangsung mengisi pori-pori tanah hingga mendekati jenuh. Tekanan air pori meningkat sehingga kekuatan geser tanah menurun akibatnya lereng menjadi lebih mudah mengalami longsor," ujar Daryono.

Daryono menyebut longsor di lereng atau hulu dapat memasukkan tanah, batu, pohon dan material lainnya ke dalam alur sungai. Inilah yang membedakan banjir bandang dari sekedar banjir air biasa.

"Alirannya dapat berubah menjadi campuran air dan material padat dengan daya rusak jauh lebih besar," ujar Daryono.

Hal ini dapat diperparah bila sebelumnya sudah terdapat endapan pasir, kerikil, bongkah, kayu atau material longsoran di dasar dan tebing sungai. Sehingga kenaikan debit mendadak dapat memobilisasi kembali material tersebut, menambah volume dan energi aliran banjir bandang.

"Berkurangnya vegetasi atau terganggunya permukaan tanah dapat menurunkan intersepsi dan infiltrasi serta meningkatkan erosi dan limpasan. Namun, kontribusi perubahan tutupan lahan pada kejadian Solok harus dibuktikan dengan data penggunaan lahan," ujar Daryono.

Apalagi air dari banyak lereng dan anak sungai akhirnya berkumpul pada lembah dan alur sungai utama. Pada DAS yang curam, waktu konsentrasinya pendek sehingga menurut Daryono debit dapat naik sangat cepat.

"Jika bersamaan dengan suplai material longsoran dan sedimen, terbentuklah aliran deras bermuatan lumpur, batu dan kayu, galodo," ujar Daryono.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Solok, Sumatera Barat, mencatat empat warga mengalami luka-luka akibat banjir bandang yang menerjang sejumlah kawasan di Arosuka, Kecamatan Gunung Talang, pada Senin (21/9/2026) malam. Kemudian satu orang warga dilaporkan meninggal dunia akibat bencana tersebut, sementara satu orang lainnya dilaporkan hilang.

Selain korban luka, BPBD Kabupaten Solok mencatat sembilan kepala keluarga atau sebanyak 32 jiwa terpaksa mengungsi akibat banjir bandang tersebut. Para pengungsi telah ditempatkan di dua lokasi yang disiapkan pemerintah daerah untuk penanganan warga terdampak bencana.

Di samping itu, sebanyak 11 kantor pemerintah terdampak banjir bandang tersebut. BPBD juga mencatat 21 mobil dan tujuh sepeda motor mengalami kerusakan akibat bencana.

Banjir bandang menerjang kawasan Kompleks Kantor Bupati Solok di Bandar Baliang, Jorong Kayu Aro, Nagari Batang Barus, serta Nagari Koto Gaek Guguk, Kecamatan Gunung Talang. 

sumber : Antara
Berita Lainnya

Rekomendasi