Ilustrasi Mirah, Singa Betina dari Marunda.
Foto: AI
Ilustrasi Mirah, Singa Betina dari Marunda.
Ilustrasi Mirah, Singa Betina dari Marunda. (AI)
Red: Karta Raharja Ucu

Singa Betina dari Marunda, Jawara Betawi yang Bikin Kocar-Kacir Kompeni

Selasa 15 Sep 2026 21:41 WIB
•
Oleh: Almarhum Alwi Shahab

REPUBLIKA.CO.ID, Kini banyak peristiwa kejahatan menimpa kaum wanita. Lebih-lebih pada malam hari, kaum wanita, ketika naik taksi, sering jadi korban penodongan. Termasuk para ibu rumah tangga ketika kediamannya disatroni perampok. Karena itu, di masyarakat Betawi terdahulu tradisi ‘maen pukulan’ atau pencak silat sudah mendarah daging termasuk di kalangan kaum wanita. Mereka belajar ‘maen pukulan’ dari jurus dasar sampai jurus pamungkas.

Dalam cerita-cerita rakyat Betawi kerap kali muncul jago-jago dari kaum perempuan. Mereka dengan gagah membela rakyat tertindas, menentang pemimpin yang zalim, dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Salah satu pendekar silat wanita yang cukup dikenal adalah Mirah, yang memperoleh gelar ‘singa betina dari Marunda’ berkat keberanian dan kelihaiannya main giksaw. Mirah, dalam terminologi gender, bukan seorang tokoh emansipasi namun seorang pejuang dalam arti sebenarnya.

Baca Juga

    

Kampung Marunda, di tepi pantai yang pernah menjadi salah satu markas balatentara Islam Mataram ketika menyerang Batavia (1628-1629), sejak dulu memiliki banyak pejuang yang bergabung dengan Mataram melawan Kompeni. Bahkan, di sini terdapat Masjid Al-Alam, yang menurut cerita dibangun pasukan Falatehan ketika mengusir Portugis dari Sunda Kalapa.

Ketika terjadi revolusi (perang kemerdekaan) melawan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang datang ke Indonesia setelah proklamasi 17 Agustus 1945 dengan mendompleng Sekutu (Inggris), rakyat Marunda banyak menjadi korban dalam mempertahankan kemerdekaan. Mirah, serta kawan-kawan wanitanya, ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Karena keberaniannya inilah yang menyebabkan dia diberi gelar ‘singa betina dari Marunda’.

Memang tidak banyak diketahui cerita tentang Mirah. Dalam buku Beksi Maen Pukulan Khas Betawi, dua seniman Yahya Andi Saputra dan H Irwan Syafi’ie sedikit mengangkat tokoh wanita ini, di samping sejumlah pemain silat lainnya.

Selain Mirah, ada lagi pejuang perempuan Betawi yang juga ahli ‘maen pukulan’. Dia adalah Nyi Mas Melati dari Tangerang.

Di kota sebelah barat Jakarta ini, juga pada revolusi fisik (1945), Nyi Mas Melati tidak gentar berada di garis depan melawan pasukan NICA. Seperti juga Mirah, pada saat revolusi sejumlah wanita aktif membantu para pejuang di garis depan sekalipun hanya sebagai pensuplai makanan dan obat-obatan.

Bagikan: