REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Petenis putri Indonesia Janice Tjen dipastikan absen dari Asian Games 2026 Aichi-Nagoya. Keputusan tersebut diambil demi menjaga peringkat dunia agar bisa tampil langsung di babak utama Australia Open 2027 sekaligus mengejar target jangka panjang tampil di Olimpiade Los Angeles 2028.
Sekretaris Jenderal PP Pelti Andi Fajar Asti mengatakan, keputusan Janice untuk tidak tampil di Asian Games merupakan pilihan yang berat. Sebab, jadwal Asian Games 2026 nomor tenis lapangan berbenturan dengan WTA 1000 Beijing yang menjadi salah satu turnamen penting bagi peringkat Janice.
"Ini keputusan yang pahit," kata Fajar ketika dihubungi Republika.co.id, Selasa (15/9/2026).
Pertandingan tenis lapangan Asian Games 2026 dijadwalkan berlangsung mulai 27 September. Sementara WTA 1000 Beijing digelar pada 30 September hingga 11 Oktober 2026. Bentroknya jadwal tersebut membuat Janice harus memilih salah satu ajang.
Menurut Fajar, tampil di Beijing menjadi pilihan strategis karena Janice berpotensi kehilangan banyak poin apabila melewatkan turnamen WTA tersebut. Penurunan peringkat dapat membuat Janice tidak langsung mendapatkan tempat di main draw Australia Open 2027.
"Kalau Janice Tjen absen di China, dia akan kehilangan banyak poin sehingga peringkatnya akan turun. Ini membuat Janice tidak langsung bermain di main draw Australia Open 2027. Kalau ini terjadi, ke depannya akan lebih sulit lagi," ujar Fajar.
Keputusan tersebut juga berkaitan dengan target besar Pelti untuk membawa tenis Indonesia kembali tampil di Olimpiade. Fajar menyebut Janice menjadi salah satu tumpuan untuk mewujudkan target tersebut pada Olimpiade 2028.
"Padahal kita menargetkan tenis melalui Janice bisa tampil di Olimpiade 2028, karena sudah lama tenis tidak main di Olimpiade," kata dia.
Pelti, lanjut Fajar, sebenarnya telah berupaya melakukan lobi kepada WTA agar Janice tidak kehilangan poin apabila memilih tampil di Asian Games. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
"Ternyata ini tidak bisa. Banyak juga pemain top Asia yang tidak ikut Asian Games, termasuk pemain andalan tuan rumah Naomi Osaka. Pemain China dan Thailand juga lebih memilih main di WTA karena khawatir kehilangan banyak poin," ujar Fajar.
Fajar menyayangkan bentroknya jadwal tersebut. Ia berharap ke depan terdapat komunikasi yang lebih baik antara Federasi Tenis Internasional (ITF) penyelenggara turnamen tenis (WTA dan ATP) dengan agenda olahraga multievent seperti Asian Games sehingga atlet tidak harus dihadapkan pada pilihan sulit.
"Harapannya ke depan akan lebih ada komunikasi untuk menyesuaikan jadwal event tenis dan olahraga multievent," kata Fajar.
Fajar juga menjelaskan alasan petenis putri Filipina, Alexandra Eala, memilih tampil di Asian Games 2026. Menurut dia, kondisi peringkat Eala berbeda dengan Janice karena poin yang dimilikinya sudah cukup aman untuk mendapatkan tempat di main draw Australia Open 2027.
Australia Open merupakan turnamen Grand Slam pembuka musim dan menjadi salah satu ajang tertinggi dalam kalender tenis dunia.
Absennya Janice membuat peluang Indonesia meraih medali emas tenis lapangan Asian Games 2026 menjadi lebih berat. Janice sebelumnya diharapkan berpasangan dengan Aldila Sutjiadi di nomor ganda putri untuk memburu medali emas.
Tanpa Janice, Aldila kini diharapkan dapat memberikan hasil terbaik bersama Christopher Rungkat di nomor ganda campuran pada pesta olahraga terbesar di Asia tersebut.
Hingga saat ini, Pelti belum memasukkan nama pengganti Janice Tjen ke dalam daftar kontingen tenis Indonesia untuk Asian Games 2026.
Berikut daftar atlet tenis Indonesia yang didaftarkan untuk Asian Games 2026:
Putri:
- Aldila Sutjiadi
- Janice Tjen
- Meydiana Laviola Reinnamah
- Anjali Kirana Junarto
Putra:
- Christopher Rungkat
- Muhammad Rifqi Fitriadi
- Moh Gunawan Trismuawantara
- Lucky Chandra Kurniawan
- Ignatius Anthony Susanto




