REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Prancis dan Kanada menyatakan akan mengikuti langkah Inggris memboikot barang-barang yang diproduksi di wilayah jajahan Israel. Ketiga negara beserta sejumlah lainnya juga mengakui terjadinya pembersihan etnis oleh Israel di Tepi Barat.
Di ruang sidang Parlemen Inggris yang dipadati hadirin pada Selasa, para anggota parlemen berkumpul untuk menyimak langkah pemerintah dalam menata ulang hubungannya dengan Israel.
Sambil mengangguk bersama para menteri kabinetnya, Perdana Menteri Andy Burnham—yang baru menjabat tujuh minggu—mendengarkan dengan saksama saat Menteri Luar Negeri Ed Miliband (yang juga baru menjabat dan berlatar belakang Yahudi) mengumumkan larangan perdagangan produk dari permukiman di Tepi Barat yang diduduki.
Ia menyatakan bahwa Kanada dan Prancis akan mengambil langkah serupa. "Hari ini, Prancis dan Kanada, bersama Inggris, mengumumkan bahwa mereka juga akan melarang impor barang dari permukiman ilegal," ujar Miliband dilansir kantor berita Kanada, CBC.
Sorak-sorai menggema di ruang sidang parlemen. Miliband mencatat bahwa ketiga negara tersebut tidak sendirian dalam mengambil tindakan terhadap terus berlanjutnya perluasan permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki.
"Belanda, Irlandia, Belgia, Spanyol, dan Norwegia—yang telah melarang produk tersebut atau sedang dalam proses melakukannya—bersama banyak negara lain seperti Denmark, Finlandia, Islandia, Polandia, Portugal, dan Swedia, hari ini berkomitmen untuk mendukung tindakan lebih lanjut."
Miliband mengatakan Inggris juga akan mengambil tindakan "terhadap perusahaan dan individu tertentu yang menyediakan layanan seperti konstruksi, infrastruktur, pembiayaan, atau real estat untuk perluasan permukiman.”
Diiringi sorak-sorai yang kembali membahana, ia berkata: "Anda akan menghadapi dampak penuh dari sanksi Inggris."
Miliband menyatakan bahwa langkah Inggris ini diambil sekarang karena Israel telah melampaui "garis merah jangka panjang"—merujuk pada pengumuman terbaru Israel mengenai pembukaan tender pembangunan 1.200 rumah bagi pemukim di kawasan yang dikenal sebagai E1 di wilayah Tepi Barat yang diduduki.




