Selasa 08 Sep 2026 19:31 WIB

Ketika Anak Krakatau tak Lagi Menakutkan

Mereka yang tinggal di sekitar Anak Krakatau sudah berdamai dengan fenomena alam.

Warga mengenakan masker di Tempat Pelelangan Ikan Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Ahad (6/9/2026).
Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas
Warga mengenakan masker di Tempat Pelelangan Ikan Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Ahad (6/9/2026).

Oleh Jurnalis Republika Dian Fath Risalah dari Bandar Lampung

REPUBLIKA.CO.ID, BANDAR LAMPUNG -- Debu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih terasa di sejumlah wilayah Lampung. Namun, bagi warga yang tinggal dan bekerja di sekitar Selat Sunda, kondisi itu tidak serta-merta membuat aktivitas berhenti. Mereka tetap bekerja, bepergian, dan menggunakan kapal untuk menyeberang.

Baca Juga

Berdasarkan pemantauan pada Senin (7/9/2026) pukul 06.00-12.00 WIB, tercatat 17 gempa frekuensi rendah, 23 gempa hybrid, dan sembilan tremor harmonik. Selain itu, tremor menerus masih terekam. Pada Selasa, letusan-letusan di gunung itu mulai mereda.

Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III atau Siaga. Badan Geologi menyebut aktivitas kegempaan yang masih tinggi menunjukkan erupsi masih dapat kembali terjadi sewaktu-waktu.

Masyarakat, wisatawan, maupun pendaki juga diminta tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Saat hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan pelindung mata serta berada di dalam ruangan. Kendaraan yang terkena abu juga perlu dibersihkan secara berkala.

Kondisi tersebut rupanya tidak membuat aktivitas warga di sekitar Selat Sunda berhenti. Ohan Heri (58), pegawai kafetaria di kapal feri ekspres, sudah sekitar lima tahun bekerja di kapal. Saat aktivitas Anak Krakatau meningkat, ia tidak mendengar dentuman ataupun merasakan getaran.

“Kalau untuk di kapal itu enggak ada. Cuma debunya sampai sekarang juga masih ada. Cuma enggak terlalu tebal lagi,” kata Ohan saat berbincang dengan Republika di atas kapal feri ekspres, Senin (7/9/2026).

 

photo
Pengendara sepeda motor memakai masker yang dibagikan anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Lampung Selatan di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Senin (7/9/2026). - (ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)

Menurutnya, jumlah penumpang juga tidak mengalami perubahan berarti. Kapal eksekutif memang biasanya ramai, terutama pada jam-jam tertentu. “Kalau peningkatan sih tidak, biasa-biasa saja,” ujarnya.

Rasa khawatir tetap ada. Namun, Ohan yang sehari-hari bekerja di kapal memilih tetap menjalankan tugas. “Takut juga. Kalau pribadi saya sendiri, ya pasrah, bagaimana lagi. Itu kan menjalankan kewajiban,” katanya.

Pengalaman menghadapi kondisi di Selat Sunda juga bukan hal baru bagi Ohan. Ia masih mengingat peristiwa 2018 ketika berada di Pelabuhan Merak.

Saat itu, setelah Magrib, ia melihat air laut surut. Ohan sempat panik karena mengetahui air laut yang tiba-tiba surut dapat menjadi salah satu tanda tsunami.

 

photo
Warga berjalan di sisa-sisa bangunan dan kapal yang rusak diterjang tsunami Selat Sunda di Sumur, Pandeglang, Banten, Kamis (3/1/2019). - (Antara/Sigid Kurniawan)

Ia kemudian memantau keadaan hingga larut malam. Sampai sekitar tengah malam, tidak terjadi tsunami di Merak. “Alhamdulillah, alhamdulillah,” ujarnya.

Debu Sampai ke Rumah

Di Lampung Tengah, Novita Sari (50) juga merasakan dampak debu vulkanik. Rumahnya harus lebih sering dibersihkan. Dalam sehari, ia dan keluarga bisa membersihkan rumah hingga empat atau lima kali.

“Kalau tempat saya, Lampung Tengah, ya ada debu. Kita sampai sehari empat sampai lima kali untuk membersihkan,” kata Novita.

Meski begitu, Novita tidak mendengar suara dentuman. Kakaknya yang tinggal di Lampung Selatan juga tidak mendengar suara serupa.

“Kalau suara dentuman sih enggak dengar. Cuma memang kalau debunya memang luar biasa,” ujarnya. 

 

photo
Warga menunjukkan abu vulkanik akibat erupsi dari Anak Gunung Krakatau di Bandar Lampung, Lampung, Ahad (6/9/2026). Sejumlah wilayah di Provinsi Lampung seperti kota Bandar Lampung, Kabupaten Pesawaran, Lampung Selatan, Tanggamus dan Pesisir Barat ikut terdampak dari abu vulkanik akibat erupsi dari Anak Gunung Krakatau. - (ANTARA FOTO/Ardiansyah)

Debu di Lampung Tengah, kata Novita, tidak setebal di sejumlah wilayah lain. Ia juga sudah memantau kondisi sebelum melakukan perjalanan. 

“Dari Lampung Tengah sudah memantau juga. Kebetulan ada kakak di Lampung Selatan. Jadi kita memantau bagaimana ini kondisinya,” katanya. 

Novita bersama keluarga besarnya hendak menuju Bandung untuk menghadiri pelantikan keponakannya yang menjadi anggota TNI pada Rabu (9/9/2026) lusa. Informasi mengenai kondisi penyeberangan yang masih aman membuat mereka tetap melanjutkan perjalanan. 

Perjalanan menggunakan kapal juga bukan hal baru bagi Novita. Ia memilih tetap berangkat setelah memastikan kondisi perjalanan. 

Santai Saja...

 

Berita Lainnya

Rekomendasi