REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, peluang terjadinya tsunami akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) terbilang masih rendah. Kesimpulan itu diambil BMKG mengacu pada alat deteksi tsunami dan pengecekan muka air laut.
Plh Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, dari pemantauan melalui 20 tsunami gauge dan HF Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung tidak menemukan adanya anomali gelombang muka air laut. "Sehingga probabilitas terjadinya tsunami berada pada kategori rendah atau di bawah 50 persen," kata Ardhasena pada Selasa (8/9/2026).
Walau demikian, BMKG memperkirakan tinggi gelombang untuk 7 hari ke depan (8–13 September 2026) di wilayah sekitar Selat Sunda berkisar antara 0,5–3 meter. "Hingga pagi ini, tidak terdeteksi anomali kenaikan tinggi muka air laut ataupun perubahan pola arus permukaan secara signifikan yang mengindikasikan akan terjadinya tsunami," ujar Ardhasena.
Mengacu pada informasi terbaru PVMBG pada pukul 07.49 WIB teramati adanya erupsi baru di GAK dengan amplitudo maksimum 48 mm dan durasi 19 detik yang masuk dalam kategori erupsi strombolien (erupsi kecil). Mengikuti erupsi-erupsi kecil lainnya yang terjadi, BMKG memantau gangguan geomagnetik dan sambaran petir akibat aktivitas GAK melalui sensor magnet bumi dan lightning detector.
BMKG mencatat adanya aktivitas gangguan geomagnetik kecil dan sambaran petir vulkanik mulai pukul 21.00 hingga pukul 23.00 WIB tadi malam. Aktivitas ini menunjukkan penurunan intensitas dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Lihat postingan ini di Instagram




