Selasa 08 Sep 2026 11:40 WIB

BMKG Ungkap September 2026 Fase Kritis Karhutla, El Nino Sulitkan Pemadaman

BMKG memprediksi El Niño masih akan bertahan hingga awal tahun 2027.

Rep: Bayu Adji Prihammanda,Rizky Suryarandika/ Red: Andri Saubani
Foto udara kawasan Musi II yang tertutup kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (5/9/2026). Berdasarkan citra satelit Himawari-9 yang dipantau BMKG pada 5 September 2026 pukul 10.00 WIB, sebaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, dan Papua Selatan bergerak ke arah barat laut–utara, sedangkan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara bergerak ke arah utara–timur laut.
Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Foto udara kawasan Musi II yang tertutup kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (5/9/2026). Berdasarkan citra satelit Himawari-9 yang dipantau BMKG pada 5 September 2026 pukul 10.00 WIB, sebaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, dan Papua Selatan bergerak ke arah barat laut–utara, sedangkan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara bergerak ke arah utara–timur laut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan September 2026 masih menjadi fase kritis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Ini disebabkan kondisi cuaca kering pengaruh El Niño, serta tingginya jumlah titik panas (hotspot) yang menyulitkan pemadaman.

Dari pemantauan BMKG, terdapat tiga faktor utama yang perlu menjadi perhatian bersama, yakni kondisi kering yang masih dominan, tingginya potensi karhutla terutama di Sumatera dan Kalimantan. Ini diperparah mulai terdeteksinya sebaran asap di sejumlah wilayah.

Baca Juga

“Karena itu, periode September ini masih menjadi fase kritis yang membutuhkan kesiapsiagaan bersama,” kata Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani dalam keterangannya pada Selasa (8/9/2026).

BMKG memprediksi El Niño masih akan bertahan hingga awal tahun 2027. Dampaknya terlihat dari semakin panjangnya hari tanpa hujan di berbagai daerah. Hingga awal September, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada musim kemarau, sementara hujan yang terjadi umumnya bersifat lokal dan belum mampu memperbaiki kondisi kekeringan secara merata.

Berdasarkan analisis BMKG, potensi pertumbuhan awan hujan pada periode 6–13 September masih relatif rendah di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera bagian selatan, serta sebagian Sulawesi dan Papua Selatan. Menurutnya.

"Kondisi tersebut menunjukkan peluang hujan alami untuk membantu pemadaman karhutla masih terbatas," ujar Faisal.

photo
Petugas Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC) Balai Penegakan Hukum Kehutanan Wilayah Sumatera dan aparat TNI menggiring terduga pelaku pembakar lahan (tengah) setibanya di Makorem 042/Garuda Putih, Jambi, Rabu (2/9/2026). Tim Satuan Tugas (Satgas) Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Provinsi Jambi mengamankan dua terduga pelaku pembakar lahan di salah satu kawasan hutan konservasi Lubuk Bernai, Jambi. - (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

BMKG menyebut wilayah yang masih perlu mendapat perhatian utama meliputi Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Selain peningkatan hotspot, BMKG mendeteksi sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan yang berpotensi memengaruhi kualitas udara. Pemantauan konsentrasi partikulat halus (PM2.5) menunjukkan peningkatan pada beberapa lokasi yang terdampak aktivitas karhutla.

Satelit Sentinel-5P juga mendeteksi peningkatan emisi karbon monoksida di Sumatera dan Kalimantan, bahkan terpantau hingga wilayah Sarawak, Malaysia.

“Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, pengendalian sumber kebakaran harus dilakukan sedini mungkin,” ujar Faisal.

Adapun salah satu upaya yang dilakukan BMKG untuk mendukung penanganan karhutla melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama BNPB, kementerian/lembaga, pemerintah daerah, BUMN. OMC tidak hanya digunakan untuk mitigasi karhutla, tetapi juga mendukung pengelolaan sumber daya air dan ketahanan pangan nasional.

"Operasi dilaksanakan secara adaptif berdasarkan kondisi atmosfer dan kebutuhan masing-masing wilayah,” ucap Faisal.

Berita Lainnya

Rekomendasi