REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Ledakan populasi mikroalga yang membentang sepanjang berkilometer di Laut Tengah menjadi penyebab terhentinya operasional sementara sejumlah instalasi desalinasi utama Israel pekan ini. Ini mengancam sumber utama air minum negara tersebut.
Dilansir CNN International, lima dari enam instalasi desalinasi pesisir negara itu—yang mengubah air laut menjadi air layak minum—berhenti beroperasi pada Ahad, menurut Mekorot, perusahaan air nasional Israel. Sejak saat itu, beberapa fasilitas yang dimiliki dan dikelola oleh pihak swasta tersebut telah kembali beroperasi secara parsial, namun hanya satu yang beroperasi dengan kapasitas penuh pada hari Kamis.
"Peristiwa semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya di Israel... ini adalah kejadian yang sangat langka," ujar Lior Gutman, juru bicara Mekorot.
Meski demikian, situasi ini mengkhawatirkan mengingat besarnya ketergantungan negara tersebut pada desalinasi untuk kebutuhan air minum. Israel merupakan wilayah gersang yang tidak memiliki sungai besar maupun curah hujan yang melimpah, namun penguasaan teknologi ini telah menjadikannya negara adidaya di bidang air.
Meski memiliki teknologi penyediaan air tersebut, patut dicatat bahwa penjajahan oleh Israel telah membuat wilayah Palestina, terutama di Gaza, mengalami kekurangan air parah. Penghancuran fasilitas air di Gaza itu adalah tindakan sengaja yang sudah diumumkan para penjahat kemanusiaan di Israel sejak awal genosida pada 2023.
Saat ini, desalinasi menyediakan setidaknya 65 persen kebutuhan air minum Israel, dengan sebagian besar instalasi berlokasi di pesisir Laut Tengah. Permasalahan bermula pada akhir pekan, ketika terjadi "peristiwa kontaminasi yang luas dan sporadis di sepanjang garis pantai Israel," ujar Edo Bar-Zeev, seorang profesor madya bidang penelitian air di Universitas Ben-Gurion, Israel.
Saat ia dan para ilmuwan lain melakukan pemeriksaan lebih lanjut, mereka menemukan bahwa penyebabnya adalah mikroalga—organisme renik yang memanfaatkan sinar matahari, karbon dioksida, dan nutrisi di dalam air untuk bertahan hidup, serta memiliki kemampuan untuk berkembang biak dengan cepat.
Ledakan populasi mikroalga tersebut—yang membentang setidaknya lebih dari belasan mil menurut Bar-Zeev—diyakini bermula di Delta Nil dan bergerak ke utara mengikuti arus laut hingga ke pesisir Israel. Ini adalah "kali pertama saya melihat fenomena sebesar ini," ujar Bar-Zeev, yang telah melakukan pengujian terhadap air pesisir selama 20 tahun.




