Ahad 06 Sep 2026 18:53 WIB

Menhub Jelaskan Alasan Masih Tutup 8 Bandara Hingga Tengah Malam

Kemenhub menyiapkan sejumlah bandara alternatif untuk take off dan landing.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Erik Purnama Putra
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi.
Foto: Republika.co.id/Erik Purnama Putra
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) masih memutuskan menutup operasional delapan bandara yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau hingga pukul 24.00 WIB. Penutupan ini bisa diperpanjang sesuai kondisi sebaran abu vulkanik. 

Dudy menjelaskan, keputusan tersebut diambil setelah Kemenhub berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan penerbangan dan memperoleh informasi terbaru mengenai arah pergerakan abu vulkanik dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). "Setiap empat jam kita akan melakukan update kondisi terakhir," kata Dudy dalam konferensi pers di Jakarta pada Ahad (6/9/2026).

Baca Juga

Dudy menyebut, berdasarkan informasi BMKG sekitar pukul 17.00 WIB, arah angin yang sebelumnya bergerak ke barat kini mengarah ke timur dengan kecepatan sekitar lima knot pada ketinggian flight level 15 ribu kaki. "Kita khawatir bahwa ini akan semakin melebar," ujarnya.

Dudy juga menjelaskan, terdapat dua bandara tambahan yang terdampak abu vulkanik hingga operasional ditutup sementara yakni Bandara Taufik Kiemas Lampung dan Bandara Atung Bungsu Pagar Alam. Dengan demikian, total terdapat delapan bandara yang terdampak abu vulkanik.

"Setelah kami melakukan koordinasi maka kami memutuskan bahwa ke-8 bandara tersebut akan kami tutup sampai dengan pukul 24.00 WIB," ucap Dudy.

Penutupan sementara tersebut akan dievaluasi kembali pada tengah malam nanti. Dudy akan melihat perkembangan sebaran abu untuk memastikan apakah konsentrasinya mulai berkurang atau justru semakin meluas.

Selain itu, Dudy juga memastikan, terus melakukan pemantauan secara berkala. Pengujian dilakukan setiap 30 menit di seluruh bandara, bukan hanya delapan bandara yang terdampak. "Khususnya yang mengarah ke timur untuk mengantisipasi apakah penyebaran debu itu semakin melebar atau berkurang," kata Dudy.

Berita Lainnya