Ahad 06 Sep 2026 11:05 WIB

Badan Geologi ESDM: Aktivitas Anak Krakatau Berpotensi Fluktuatif dan Meningkat

Erupsi Anak Krakatau Belum Bisa Diprediksi Kapan Berakhir

Rep: Frederikus Dominggus Bata/ Red: Intan Pratiwi
Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau terlihat dari Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat rangkaian letusan yang terjadi sejak Jumat (4/9) malam tersebut terindikasi sebagai pancaran lava (lava fountain) dengan durasi gempa letusan mencapai 21.600 detik dan amplitudo maksimum 70 milimeter yang merupakan intensitas tertinggi sepanjang tahun 2026.
Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas
Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau terlihat dari Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat rangkaian letusan yang terjadi sejak Jumat (4/9) malam tersebut terindikasi sebagai pancaran lava (lava fountain) dengan durasi gempa letusan mencapai 21.600 detik dan amplitudo maksimum 70 milimeter yang merupakan intensitas tertinggi sepanjang tahun 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan aktivitas Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan. Kondisi itu ditandai dengan erupsi yang berulang dan berlangsung secara menerus.

Peningkatan aktivitas tersebut menunjukkan masih adanya suplai magma dan gas di dalam tubuh gunung api. Meski erupsi terjadi berulang, situasi demikian tidak otomatis menandakan akan terjadi erupsi lebih besar.

"Gunung Krakatau saat ini memang meningkat dibandingkan periode sebelumnya, ditandai oleh erupsi yang berulang dan berlangsung secara menerus," kata Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria dalam konferensi pers perkembangan erupsi Gunung Api Anak Krakatau, Ahad (6/9/2026).

Badan Geologi ESDM, lanjut dia, terus mengevaluasi perkembangan aktivitas Anak Krakatau berdasarkan seluruh data pemantauan. Evaluasi tersebut tidak hanya melihat jumlah atau tinggi kolom erupsi.

Aktivitas Anak Krakatau mulai kembali meningkat sejak Juli 2026. Pada 2 Juli 2026, status aktivitas gunung api tersebut dinaikkan dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga.

Aktivitas tertinggi tercatat pada 5 September 2026. Sehari sebelumnya, pada 4 September 2026 pukul 23.00 WIB, Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai semburan lava atau lava fountain, suara gemuruh, dan dentuman.

"Jenis kegempaan tersebut menunjukkan pergerakan atau pelepasan fluida vulkanik dalam sistem gunung api," ujar Lana.

Dia menjelaskan aktivitas Anak Krakatau masih berpotensi berfluktuasi dan meningkat. Hal itu terlihat dari masih terekamnya gempa frekuensi rendah, gempa hybrid, gempa harmonik, dan tremor.

Lana menegaskan waktu, besar, dan bentuk erupsi berikutnya belum dapat dipastikan secara tepat. Karena itu, evaluasi dilakukan secara berkelanjutan dengan melihat perubahan seluruh parameter pemantauan.

Badan Geologi ESDM menghimbau masyarakat dan wisatawan tidak memasuki wilayah dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman awan panas, lava, lontaran batu pijar, hujan abu, serta menggunakan masker jika terdampak abu vulkanik.

Badan Geologi mengharapkan masyarakat mengikuti informasi resmi pemerintah. Sebaiknya, jangan ada yang terpancing isu mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau dari sumber tidak dapat dipercaya.

Berita Lainnya

Rekomendasi