Sabtu 05 Sep 2026 14:10 WIB

Bisakah Runtuhan Gunung Anak Krakatau Picu Tsunami? Ini Penjelasan PVMBG

Aktivitas Gunung Anak Krakatau mendapatkan perhatian secara intensif.

Rep: Noor Alfian/ Red: Teguh Firmansyah
Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda mengalami erupsi dan mengeluarkan kolom abu setinggi 2.000 meter, pada Ahad (17/7) pukul 08.47 WIB.
Foto: PVMBG
Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda mengalami erupsi dan mengeluarkan kolom abu setinggi 2.000 meter, pada Ahad (17/7) pukul 08.47 WIB.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan tubuh Gunung Anak Krakatau yang kembali tumbuh setelah erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil. Kondisi tersebut dinilai belum berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.

Kepala PVMBG Rita Susilowati mengatakan perkembangan morfologi Gunung Anak Krakatau tetap dipantau secara intensif menyusul aktivitas erupsi terbaru.

Baca Juga

"Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca erupsi 22 Desember 2018 ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami," kata Rita.

Kendati demikian pihaknya mengatakan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap dilakukan.

"Meskipun demikian, ini kami pastikan bahwa perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi dari Gunung Anak Krakatau ini tetap dipantau secara intensif," katanya.

Gunung Anak Krakatau sebelumnya menjadi perhatian besar setelah sebagian tubuhnya runtuh pada 22 Desember 2018. Peristiwa tersebut memicu tsunami di kawasan Selat Sunda.

Rita menjelaskan, setelah kejadian tersebut Gunung Anak Krakatau mengalami rangkaian erupsi berkala berskala rendah sebagai bagian dari fase pertumbuhan kembali.

Berita Lainnya

Rekomendasi