Kamis 03 Sep 2026 14:24 WIB

Kompolnas: Ada Kemiripan Pola Kericuhan 27 Agustus dengan 2025, Bongkar Aktor Intelektualnya

Pendalaman tidak hanya pada pelaku di lapangan, tapi siapa yang memobilisasi massa.

Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol. Iman Imanuddin (kiri) dan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Budi Hermanto (kanan) menunjukkan sketsa wajah terduga pelaku pengeroyokan yang menewaskan warga Pejompongan, Bambang Setiyawan, dalam konferensi pers perkembangan penanganan pascaaksi kerusuhan 27 Agustus di Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Rabu (2/9/2026). Polda Metro Jaya menetapkan 47 orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan kerusuhan, perusakan fasilitas umum, dan penganiayaan saat aksi demonstrasi di kawasan DPR/MPR hingga Pejompongan pada 27 Agustus 2026.
Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol. Iman Imanuddin (kiri) dan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Budi Hermanto (kanan) menunjukkan sketsa wajah terduga pelaku pengeroyokan yang menewaskan warga Pejompongan, Bambang Setiyawan, dalam konferensi pers perkembangan penanganan pascaaksi kerusuhan 27 Agustus di Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Rabu (2/9/2026). Polda Metro Jaya menetapkan 47 orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan kerusuhan, perusakan fasilitas umum, dan penganiayaan saat aksi demonstrasi di kawasan DPR/MPR hingga Pejompongan pada 27 Agustus 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mendorong Polda Metro Jaya mengungkap dugaan aktor intelektual di balik kericuhan 27 Agustus 2026. Ada kemiripan pola kericuhan pada 27 Agustus dengan kejadian pada 2025.

Komisioner Kompolnas Choirul Anam dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, mengatakan pengungkapan diperlukan untuk mengetahui secara menyeluruh pihak yang berada di balik peristiwa tersebut, khususnya kericuhan pada malam hari.

Baca Juga

"Iya, kami Kompolnas tetap mendorong Polda Metro untuk membongkar siapa aktor intelektual di balik peristiwa tanggal 27 kemarin. Khususnya yang di malam hari," kata Anam.

Menurut dia, pola yang ditemukan dalam peristiwa 27 Agustus memiliki kemiripan dengan peristiwa pada ricuh 2025 sehingga perlu menjadi bahan pendalaman kepolisian.

Anam mengatakan pendalaman tidak hanya perlu diarahkan terhadap pelaku di lapangan, tetapi juga mencakup dugaan mobilisasi massa dan pendanaan yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.

"Karena kita bisa belajar dari peristiwa 2025. Ada pola yang bisa kita rasakan di lapangan itu mirip antara 2025 dan 2026 kemarin. Sehingga aktor intelektual di balik peristiwa tanggal 27 kemarin maupun peristiwa yang lain itu harus segera diungkap," ujarnya.

sumber : Antara
Berita Lainnya

Rekomendasi