Selasa 01 Sep 2026 17:12 WIB

Pembiayaan Rp 48 Miliar Mengalir ke Pedagang Pasar, Rano: Harus Diikuti Literasi Keuangan

Pembiayaan kepada para pedagang itu diberikan melalui program KUR dan non-KUR.

Rep: Bayu Adji Prihammanda/ Red: Mas Alamil Huda
Sebanyak 100 pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, melakukan akad kredit massal Bank Jakarta pada Selasa (1/9/2026). Pembiayaan kepada para pedagang itu diberikan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan non-KUR dengan plafon hingga Rp 500 juta.
Foto: Dok Pemprov DKI
Sebanyak 100 pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, melakukan akad kredit massal Bank Jakarta pada Selasa (1/9/2026). Pembiayaan kepada para pedagang itu diberikan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan non-KUR dengan plafon hingga Rp 500 juta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebanyak 100 pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, melakukan akad kredit massal Bank Jakarta pada Selasa (1/9/2026). Pembiayaan kepada para pedagang itu diberikan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan non-KUR dengan plafon hingga Rp 500 juta.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengatakan, akses pembiayaan bagi pedagang pasar harus diikuti dengan literasi keuangan. Hal itu dinilai penting agar tambahan modal yang diterima pelaku usaha dapat dikelola secara sehat dan mendorong perkembangan bisnis.

Baca Juga

"Hari ini kita memperluas akses pembiayaan bagi pedagang pasar induk di Kramat Jati ini. Ini penting sekali, karena pedagang membutuhkan kepastian modal kerja untuk menjaga keberlangsungan usaha," kata dia, Selasa.

Hingga saat ini, BUMD DKI Jakarta itu telah menyalurkan pembiayaan kepada 167 pedagang di Pasar Induk Kramat Jati. Adapun nilai pembiayaan yang diberikan mencapai Rp 48 miliar.

Menurut Rano, dukungan permodalan tersebut dapat membantu pedagang meningkatkan kapasitas usaha, mengembangkan bisnis, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan. Ia berharap, akad kredit massal bagi 100 pedagang itu dapat mendorong lebih banyak pelaku usaha memanfaatkan pembiayaan formal.

Meski begitu, ia menilai pemberian akses modal saja tidak cukup. Pedagang juga perlu memahami pengelolaan keuangan agar pembiayaan yang diterima dapat digunakan secara tepat dan mendukung keberlangsungan usaha.

"Pasti akan ada dialog antara pihak bank dengan pedagang untuk saling membantu manajemen agar usaha lebih berkembang. Mudah-mudahan program ini bisa kita kembangkan di pasar-pasar yang lain," ujar dia.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi