REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Singkong bukan sekadar pangan tradisional. Di tangan perguruan tinggi dan pelaku usaha masyarakat, komoditas lokal Banjarnegara tersebut dikembangkan menjadi mocaf dan berbagai pangan alternatif yang bernilai tambah. Upaya itu dilakukan Pusat Inovasi, Hilirisasi, dan Percepatan Swasembada Pangan (Puskor IHSP) LPPM Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Bertajuk "Penerapan Teknologi Produksi Mocaf dan Produk Pangan Pokok Alternatif Pengganti Beras dan Terigu untuk Menguatkan Daya Saing Usaha Masyarakat Berbasis Potensi Lokal Unggulan Banjarnegara", Unsoed ingin pangan lokal naik kelas. Program yang dilaksanakan secara bertahap selama tiga tahun ini memasuki tahap akhir pada 2026.
Kegiatan tersebut terlaksana dengan pendanaan dari Kemendiktisaintek yang dilaksanakan melalui Program PKM pada Skema Pemberdayaan Berbasis Kewirausahaan Ruang Lingkup Pemberdayaan Mitra Usaha Produk Unggulan Daerah dan Bidang Fokus RIRN-Pangan. Program yang dilaksanakan secara bertahap selama tiga tahun ini memasuki tahap akhir pada 2026.
Program diketuai Dr. Santi Dwi Astuti, S.TP., M.Si., dengan melibatkan mahasiswa dan bekerja sama dengan dua mitra, yakni UD Usaha Mandiri dan KWT Sinar Tani, serta mendapat dukungan dari Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banjarnegara. Mereka mendapat dukungan dari Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banjarnegara.
"Program ini menjadi bagian dari hilirisasi hasil riset perguruan tinggi," kata Santi dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (28/8/2026). Dia menjelaskan, tim Unsoed menerapkan teknologi produksi mocaf melalui modifikasi biologis dengan fermentasi terkendali menggunakan Bimo CF. Teknologi tersebut kemudian diterapkan oleh mitra untuk menghasilkan produk yang lebih beragam dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.




