Rabu 26 Aug 2026 20:08 WIB

Petinggi PDIP Ingatkan NU Agar Energi Muktamar tak Habis di Perebutan Kursi Kepemimpinan

NU dinilai menghadapi beragam persoalan di akar rumput, termasuk kemiskinan.

Petugas kemanan berjaga di pintu masuk Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas lokasi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) Jombang, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026). Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memanfaatkan teknologi informasi untuk mengawal pelaksanaan Muktamar ke-35 NU dengan memasang lebih dari 100 kamera pengawas atau CCTV di area kegiatan.
Foto: ANTARA FOTO/Syaiful Arif
Petugas kemanan berjaga di pintu masuk Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas lokasi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) Jombang, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026). Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memanfaatkan teknologi informasi untuk mengawal pelaksanaan Muktamar ke-35 NU dengan memasang lebih dari 100 kamera pengawas atau CCTV di area kegiatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA  -- Ketua DPP PDIP Said Abdullah mengingatkan agar energi Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) tidak dihabiskan untuk perebutan kepemimpinan. Ia mendorong agar Muktamar ini lebih diarahkan pada persoalan umat dan bangsa.

“Sebagai kekuatan subkultur, NU menjadi ruang budaya tempat nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, toleransi, dan kearifan lokal berproses secara organik. Praktik inilah yang menjadi kedigdayaan NU hingga hari ini,” kata Said dalam keterangan di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Baca Juga

Said mengatakan NU menghadapi berbagai persoalan di akar rumput, antara lain kemiskinan, pengangguran, krisis pertanian dan lingkungan, serta persoalan global yang berdampak pada kondisi ekonomi dan demokrasi.

Menurut dia, modal sosial yang menjadi kekuatan NU harus terus dihidupkan agar organisasi tersebut tidak terjebak dalam dinamika politik. Hal itu, kata Said, termasuk tidak membawa proses suksesi kepemimpinan NU seperti pergantian pemimpin politik yang bersifat pragmatis dan transaksional.

Said mengatakan NU memang tumbuh dari lingkungan pesantren yang banyak berada di pedesaan, tetapi peran dan harapan terhadap NU melampaui kedudukannya sebagai komunitas desa dan kekuatan subkultur.

Tradisi intelektual keislaman NU yang dipadukan dengan keberadaan ratusan ribu sarjana NU yang menimba ilmu di berbagai penjuru dunia dinilai menjadi kekuatan penting untuk menjawab berbagai persoalan.

 

sumber : Antara
Berita Lainnya

Rekomendasi