Sabtu 15 Aug 2026 21:19 WIB

Usai Kontroversi Laga Singapura vs Indonesia, Kasus Laos Bikin Integritas AFF Dipertanyakan

Federasi Sepak Bola Laos meminta kepolisian menyelidiki dugaan pengaturan skor.

Rep: Fitriyanto/ Red: Israr Itah
:aga Laos vs Myanmar di Piala AFF 2-26.
Foto: tangkapan layar Youtube
:aga Laos vs Myanmar di Piala AFF 2-26.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Integritas ASEAN Football Federation (AFF) dan penyelenggaraan Piala AFF 2026 kembali menjadi sorotan. Setelah kontroversi keputusan wasit pada laga Indonesia vs Singapura, 7 Agustus lalu, kini terkuak dugaan baru pelanggaran integritas yang melibatkan Laos.

Federasi Sepak Bola Laos (LFF) telah meminta kepolisian negaranya menyelidiki dugaan pengaturan skor, suap, dan perjudian ilegal yang diduga melibatkan sejumlah anggota tim nasional Laos selama Hyundai ASEAN Cup 2026 berlangsung.

Baca Juga

Kasus tersebut masih berada pada tahap penyelidikan. LFF belum menyatakan bahwa pemain tertentu terbukti melakukan tindak pidana, sedangkan identitas sejumlah pemain yang disebut masuk radar pemeriksaan juga belum diumumkan. Karena itu, seluruh tuduhan harus diperlakukan secara hati-hati dengan tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah.

Meski demikian, dugaan match-fixing itu tidak hanya menyangkut internal sepak bola Laos. Kasus tersebut menjadi ujian serius bagi kemampuan ASEAN Football Federation (AFF) dalam menjaga integritas kompetisi regional. Respons AFF akan menentukan apakah Piala AFF 2026 tetap dipandang sebagai turnamen yang kredibel atau justru dibayangi keraguan mengenai transparansi, independensi, dan pengawasan pertandingan.

Dugaan itu mencuat setelah Laos menutup fase grup Grup B dengan empat kekalahan beruntun. Laos kalah 0-5 dari Thailand pada 25 Juli, 0-4 dari Malaysia pada 28 Juli, 1-4 dari Filipina pada 1 Agustus, dan 2-7 dari Myanmar pada 4 Agustus. Rangkaian hasil buruk tersebut memicu pertanyaan publik, meskipun skor besar dan kekalahan beruntun tidak dapat dijadikan bukti bahwa pertandingan telah diatur.

Menurut pengamat sepakbola Akmal Marhali, ujian bagi AFF bukan hanya menemukan pihak yang mungkin bertanggung jawab. "Sorotan terhadap integritas turnamen itu justru bisa melebar ke kualitas pengambilan keputusan di lapangan," jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Sabtu (15/8/2026).

Founder SOS (Save Our Soccer) ini mengaitkan dengan kasus sebelumnya, ketika Indonesia dirugikan dalam laga penutup Grup A melawan tuan rumah Singapura pada 7 Agustus. Pertandingan itu dipimpin wasit asal Oman, Abdullah Salim Khalfan Al-Amouri.

Insiden pertama terjadi sekitar menit ke-20 ketika Mitchell Baker jatuh di kotak penalti Singapura saat berusaha menguasai atau memenangkan bola. Baker dan pemain Indonesia meminta penalti karena terjadi kontak dengan pemain Singapura, tetapi wasit tidak menunjuk titik putih.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi