Selasa 11 Aug 2026 13:45 WIB

MBG Picu Keracunan 707 Siswa-Guru di SMKN 6 Semarang Positif 3 Jenis Bakteri

Bakteri-bakteri tersebut ditemukan pada lauk-pauk MBG, yakni rendang dan telur puyuh.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Mas Alamil Huda
Sejumlah murid menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di program sekolah swasta gratis di SMP Purnama 2, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (15/7/2026). Pemkot Semarang menjalankan program sekolah swasta gratis di 133 sekolah dengan menyediakan 6.000 kursi pada tahun ajaran 2026/2027 mulai dari jenjang TK, SD, hingga SMP yang menggunakan anggaran dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDa) sebagai upaya memperluas akses pendidikan berkualitas bagi anak dari keluarga kurang mampu.
Foto: ANTARA FOTO/Makna Zaezar
Sejumlah murid menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di program sekolah swasta gratis di SMP Purnama 2, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (15/7/2026). Pemkot Semarang menjalankan program sekolah swasta gratis di 133 sekolah dengan menyediakan 6.000 kursi pada tahun ajaran 2026/2027 mulai dari jenjang TK, SD, hingga SMP yang menggunakan anggaran dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDa) sebagai upaya memperluas akses pendidikan berkualitas bagi anak dari keluarga kurang mampu.

REPUBLIKA.CO.ID, REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG — Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyebabkan 707 siswa dan guru di SMKN 6 Semarang, Jawa Tengah, mengalami gejala keracunan, positif mengandung beberapa bakteri. Berdasarkan hasil uji lab, terdeteksi bakteri E.coli, salmonella, dan staphylococcus pada MBG yang dibagikan pada 31 Juli 2026 lalu tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang Mochamad Abdul Hakam mengungkapkan, hasil uji lab terhadap sampel MBG yang menyebabkan dugaan keracunan massal di SMKN 6 Semarang sudah keluar pekan lalu. “E.coli positif. Salmonella juga positif. Dan staphylococcus. Sudah tiga itu,” ungkapnya ketika dihubungi, Selasa (11/8/2026).

Baca Juga

Menurut Hakam, bakteri-bakteri tersebut ditemukan pada lauk-pauk MBG, yakni rendang dan telur puyuh. “Ini sudah disepakati kemarin sama Satgas, sama SPPG, ke depan itu kita kepingin melakukan sampling di SPPG setiap hari, yang kita sampling mikrobiologi,” ujarnya.

Dia menekankan, jajaran Dinkes Kota Semarang siap terjun ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan mikrobiologi pada MBG guna mencegah terulangnya kasus dugaan keracunan. Sebab selama ini pemeriksaan sampel makanan dengan melibatkan Dinkes hanya bersifat kasuistik, yakni ketika terjadinya insiden dugaan keracunan.

“Kami siap, yang melakukan pemeriksaan siap. Tapi yang diperiksa ini bagaimana? Kan kita tetap harus izin ke BGN (Badan Gizi Nasional) dulu,” kata Hakam.

Menurut Hakam, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti sudah mendorong soal pemeriksaan mikrobiologi pada MBG sejak tiga bulanan lalu. “Tinggal sekarang bola panasnya itu BGN kapan mintanya? Karena mereka kan harus membayar pemeriksaan itu SPPG-nya,” ujarnya.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi